JAKARTA -- Sekretaris Paguyuban DPD Golkar Propinsi se-Indonesia, Ridwan Bae mendesak Ketua DPR merangkap Waketum Golkar versi Munas Bali, Ade Komaruddin mengklarifikasi surat pernyataannya yang menyebut tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar jika terpilih menjadi Ketua DPR yang kini beredar di masyarakat. Harus dijelaskan, apakah itu asli, palsu atau direkayasa.

“Bukankah surat pernyataan itu ditanda tangani Ade Komaruddin di depan Pak Aburizal Bakrie, Idrus Marham, Nurdin Halid, dan Setya Novanto, Kenapa Bambang Soesatyo bilang surat itu diubah di sana-sini sehingga bunyinya lain, Saya minta Pak Ade Komaruddin segera klarifikasi supaya klir, “ pinta Ridwan Bae kepada wartawan di gedung DPR, Senin 14 Maret 2016.

Ridwan menanyakan, apakah betul Ade Komaruddin tidak membaca isinya saat mau menandatangani surat pernyataan tersebut, Karena kalau itu betul, maka itu bahaya sekali, kok bisa-bisanya seorang Ketua DPR menandatangani sesuatu tanpa dia baca isinya. ‘’Tolong ini juga dijelaskan supaya rakyat tidak resah dan bingung,’’ katanya.

Menurut Ridwan, tidak elok Bambang Soesatya membantah soal beredarnya surat pernyataan yang dibuat Akom, meskipun posisi dia sebagai Tim Sukses atau Tim Pemenangan Akom. Kata Ridwan, yang berhak mengklarifikasi adalah Akom, bukan orang lain. Karena kalau orang lain, persoalan jadi bias ke mana-mana yang akhirnya membuat rakyat tambah bingung.

“Saya minta Bambang Soesatyo jangan menjawab soal surat pernyataan Akom, biarlah dijawab Akom sendiri. Selain itu, Bambang juga tidak meributkan soal siapa yang mengeluarkan surat itu dari laci Aburizal Bakrie, karena surat itu tidak bersifat rahasa, sehingga semua kader Golkar boleh membaca supaya tidak salah jalan, “ tegas Ridwan Bae.

Terakhir, Ridwan Bae menantang  Akom segera mengklarifikasi surat pernyataan yang dia tanda tangani itu, jangan sembunyi terus. “Kita butuh pemimpin yang jujur, karena ke depan, kita butuh pemimpin yang benar-benar bisa dipercaya, “  tegas Ridwan Bae lagi.

Sebelumnya Pimpinan Tim Pemenangan Ade Komaruddin, Bambang Soesatyo menyatakan, persaingan Caketum Golkar kian memanas, ia menghimbau timses kandidat caketum Golkar yang lain bermain sehat dan menghindari praktik pembusukan terhadap lawan.

Pria yang akrab disapa Bamsoet itu mengendus bertubi-tubu serangan kampanye hitam yang dilancarkan pihak lawan terhadap Ade Komarudin alias Akom, mulai dari isu politik uang, gratifikasi jet pribadi, surat pernyataan yang menyebutkan Akom tidak akan maju sebagai Ketum Partai Golkar.

“Saya memprediksi, serangan kampanye hitam takkan berhenti. Termasuk serangan soal perjanjian di mana Akom tidak akan maju jadi calon ketua umum, “ kata Bamsoet.

Ia menyesalkan, kenapa surat pernyataan yang menyebut Akom tak akan maju jadi calon ketua umum Partai Golkar sudah diedarkan oleh kelompok tertentu ke seluruh daerah. Padahal surat perjanjian tersebut diragukan keasliannya.

Menurut Bamsoet, pada rapat harian terbatas saat itu dihadiri Ketum Golkar, Aburizal Bakrie, Ketua Harian MS Hidayat, Titik Suharto, dan lain-lain. Saat itu tidak ada kesepakatan bahwa Akom tidak boleh mencalonkan diri. Yang ada adalah, Ketum Golkar, Aburizal Bakrie dengan persetujuan peserta rapat menunjuk Akom sebagai Ketua DPR, menggantikan Setya Novanto yang diduga terseret kasus papa minta saham.

Dalam surat perjanjian itu, ada suatu ketentuan bahwa Akom tidak boleh menginisiasi munas karena sengketa kasus Golkar masih proses hukum di Mahkamah Agung (MA). Jadi, perjanjiannya adalah Akom tidak boleh mendorong terjadinya Munas atau Munaslub karena sedang dalam proses hukum di MA.

“Bahwa kemudian isinya diubah menjadi tak mencalonkan, ini yang jadi tanda tanya. Yang saya heran, darimana orang-orang itu menyebarkan dokumen yang harusnya berada di laci Pak ketua umum (Ical). Artinya ada yang curi dokumen itu dari laci Ketum Golkar, “ tegas Bamsoet.**(bam)