• Oesman Sapta Odang

JAKARTA -- Keberadaan Nagari Sulit Air di Kabupaten Solok, kental dengan sejarah perlawanan anak nagari di Sumatera Barat dalam melawan penjajah di masa kolonial. Tuanku Imam Bonjol sebagai figur kekuatan didukung ulama Paderi dan kaum adat berhasil mendirikan pusat kekuatan di Bonjol (1803-1838). 

Nagari Sulit Air merupakan pintu gerbang menuju Bonjol bagi penjajah Belanda  menyerang pasukan Imam Bonjol yang berada di Kecamatan Bonjol yang terdiri empat nagari. Karena kegigihan anak Nagari Sulit Air, serangan pasukan Belanda berhasil dilumpuhkan. Kegigihan anak Nagari Sulit Air juga juga ditopang oleh Gunung Merah Putih yang menjadi simbol perlawanan rakyat melawan para penjajah.

"Ini bendera merah putih berasal dari Gunung Merah Putih," kata Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO) saat membuka Silaturahmi Akbar 2016 warga Sulit Air Sepakat (SAS) Korwil V SAS dan IPPSA (DKI, Jabar dan Banten) di Jakarta, Ahad 14 Agustus 2016.

Nagari Sulit Air memiliki sebuah gunung pemersatu seluruh elemen masyarakat, yaitu Gunung Merah atau juga disebut Gunung Papan. Di gunung kebanggaan warga Sulit Air itu terdapat tanah merah diatas, namun ternyata memiliki kapur putih yang berada dibawah kaki gunung, sehingga menurut Oesman kebesaran ciptaan Allah SWT yang indah itu seolah menjadi simbol bendera bangsa Indonesia. Merah yang diartikan keberanian dan putih yang disimbolkan sebagai kesucian.

Gunung Merah Putih kini menjadi andalan wisata rakyat setempat sebagai salah satu tujuan wisata. Menurut OSO, Sulit Air harus menjadi prioritas pembangunan agar nagari itu bisa menjadi objek turis  baik domestik maupun mancanegara. "Agar orang berduyun-duyun melihat Gunung Merah Putih," ujarnya.

Sebelum menuju ke nagari yang berada di atas bukit ini, turis juga akan melalui danau terbesar di Sumatera Barat, Danau Singkarak. Menurut OSO, banyaknya lokasi-lokasi yang indah ditambah nilai sejarahnya, Sulit Air memiliki potensi wisata yang sangat besar untuk maju sebagai salah satu daerah tujuan wisata. 

OSO yang juga Ketua Dewan Sulit Air Sepakat (SAS), organisasi perantauan warga Sulit Air yang memiliki hingga 83 cabang  di seluruh dunia mengatakan, ada keinginan masyarakat kepada Bupati Solok agar di daerah itu dibangun pengaspalan jalan sehingga bisa dilalui even balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS). Even olahraga tahunan itu dinilai bisa mendongkrak potensi wisata lokal di daerah tersebut.

"Tadi saya ditelpon Raja Sapta Okto, Ketua kontingen balap sepeda agar menyampaikan pesan itu. Pemda harus punya inisiatif. Inikan bisa menggerakan wisata dan ekonomi daerah, jadi sudah jelas ada potensi wisatanya," imbuhnya. 

Sementara Ketua panitia acara silaturrahmi akbar 2016 Rosi Yulita Rusli menyatakan warga SAS sudah dikenal luas di berbagai kalangan dan penjuru tanah air sebagai organisasi yang sangat kuat dalam persatuan dan perhatian membangun nagari dan kampung halaman.

"Warga SAS yang berbondong-bondong hadir di luar dugaan kami. Target kami hanya 3000 orang, ternyata hampir 3500 orang memadati bagian dalam dan luar GOR, " ujarnya.

Rosi mengungkapkan kepengurusan Korwil V SAS DKI, Jabar dan Banten di bawah payung DPP SAS jumlah 90 cabang di seluruh Indonesia, termasuk Malaysia, Australia dan AS.**(bam)