PEKANBARU -- Gaungriau.com -- Pertumbuhan Ekonomi Riau sepanjang 2017 sebesar 2,71 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau pertumbuhan ekonomi Riau ini masih dibawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen.

"Pertumbuhan ekonomis Riau tahun 2017 sebesar 2,71 persen. Pertumbuhan ekonomi Riau memang masih rendah jika dibandingkan Nasional," ungkap Kepala BPS Provinsi Riau Aden Gultom kepada sejumlah wartawan, Senin 5 Februari 2018 di Kantor BPS Provinsi Riau Jalan Pattimura.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Riau ini dikarenakan produksi minyak dan gas (migas) di provinsi Riau yang terus mengalami penurunan. "Jika dihitung tanpa migas pertumbuhan ekonomi Riau 4,57 persen. Ini menandakan semenjak 2011 menarik pertumbuhan ekonomi ke bawah. Kelihatannya, produksi menurun karena memang sumurnya sudah tua," terang Aden.

Pertumbuhan ekonomi provinsi Riau rendah dibandingkan daerah tidak menghasilkan migas atau non migas.
"Sementara, untuk Sumatera pertumbuhan ekonomi tertinggi Sumsel 5,51 dan terendah Kepri 2,01 persen, Sementara Riau diatas Kepri 2,71 persen," ujar Aden.

Kemudian, dari sisi produksi pertanian kehutanan dan perikanan pertumbuhan 5,28 persen. Pertumbuhan ekonomi Riau tahun 2017 lebih baik dibanding sebelumnya 3,98 persen. Cuaca 2017 relatif lebih baik, tidak terjadi El Nino seperti tahun 2015 dan La Nina 2016.

"Sementara itu, industri pengolahan tumbuh 5,51 persen lebih baik dibanding sebelumnya 4,60 peren.Membaiknya kedua kategori tersebut menyebabkan membaiknya pertumbuhan pada kategori perdagangan besar dan eceran reparasi mobil dan motor,"jelasnya.

Sementara itu, ITK (Indeks Tendensi konsumen) yang ditentukan tiga variabel perdapatan RT kini, pengaruh onflasi terhadap konsumsi dan tingkat konsumsi makanan dan non makanan. ITK di provinsi Riau pd triwulan IV 2017 sebesar 104,8 menunjukan tingkat ekonomi konsumen optimis pada Triwulan tersebut.

"Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 102,86, ITK mengalami kenaikan. Sementara itu, ITK triwulan I 2018 diperkirakan 100,86 artinya kondisi ekonomi konsumen triwulan akan datang diperkirakan akan tetap optimis," pungkas Aden.**(rud)