Demikian disampaikan Sugeng kepada GaungRiau, Ahad 27 Desember 2015. Dikatakannya, tidak bisa beroperasinya mesin PLTD milik Kampung Banjar Seminai ini dikarena sudah tidak mampu lagi membiayai operasionalnya, karena banyaknya tunggakan masyarakat terhadap rekening PLTD.
Dikatakannya, hal ini berawal dari semakin sulitnya ekonomi masyarakat pasca anjloknya harga tandan buah segar (TBS) yang hingga sekarang ini terus terjadi dan belum juga ada tanda-tanda ada kenaikan harga seperti yang diharapkan petani, apalagi masyarakat di kampung ini penghasilannya sangat bergantung kepada hasil sawit.
"Kalau hanya punya dua hektar sawit dengan harga sawit seperti sekarang ini, tak usahkan untuk membiayai anak kuliah, untuk kebutuhan sehari-hari saja hampir tutup lobang. Bagaimana untuk membayar rekening PLTD yang dalam satu bulannya terkadang mencapai Rp 400 ribu, hanya untuk jasa PLTD yang hidupnya dimalam hari saja," kata Sugeng.
Untuk itu, Sugeng berharap kepada pemerintah daerah agar dapat mencari jalan keluar agar derita gelap gulita yang dirasakan masyarakat ini dapat tertatasi. "Meteran PLN sudah dipasang dirumah-rumah, tinggal bagaiman aliran arusnya cepat tersalurkan lagi. Cuma itu jalan keluarnya harus cepat hidup PLN-nya," sebut Sugeng berharap banyak.**(jas)









