• Sri Petri Hariyati

PEKANBARU -- Perjuangan para guru terapis memberikan terapi terhadap para anak autis di Pusat Layanan Autis (PLA) Riau memberikan hasil yang baik. Banyak siswa autis yang dulunya sangat sulit untuk berinteraksi, kini sudah menunjukkan kemajuan dengan terus mampu untuk berinteraksi.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau, Sri Petri Hariayanti Ahad 3 April 2016 mengatakan, PLA Riau yang berada dibawah Disdikbud baru beroperasi selama Delapan bulan. Saat ini terdapat 30 anak autis dari keluarga tidak mampu di berikan terapis dan dididik. Bahkan anak autis yang dididik dan di beri terapis berasal dari luar Kota Pekanbaru.

Menurutnya, saat ini yang mendaftar untuk mendapatkan terapis terdapat sebanyak 150. Dari jumlah tersebut dilakukan assesment dalam proses seleksi. Dan sudah memiliki daftar tunggu sebanyak 20 anak untuk di terapis. Diterangkannya, PLA ini terkhusus untuk anak berkebutuhan khusus seperti autis dari keluarga yang tidak mampu. 

Bahkan diantara syarat pendaftaran, adanya surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau desa. PLA tidak menerima mereka yang dari kalangan orang kaya. Pusat Layanan Autis membantu anak autis dari keluarga tidak mampu," kata Sri Petri.

Petri merasa gembira dengan terusnya terlihat perkembangan anak autis setelah mendapatkan terapis. "Para anak autis kini sudah mampu secara perlahan berinteraksi. Mereka mulai paham dengan perintah, serta komunikasi yang dilayangkan pada mereka," ungkapnya.

Seperti dalam lomba memperkokoh hubungan antara orangtua dengan PLA. Melalui lomba yang di selenggarakan, para anak autis menunjukkan perkembangannya dengan pahamnya terhadap perintah dalam perlombaan. Untuk itu, jangan memandang sebelah mata pada anak yang memiliki kebutuhan khusus tersebut. 

"Mereka jangan dijauhkan apalagi di kucilkan. Tapi rangkullah mereka untuk perkembangannya. Karena mereka memerlukan sentuhan kasih sayang untuk perkembangan dan pertumbuhannya. Bagi keluarga ada diantara anggota keluarganya penyandang autis sebelum usia anak 12 tahun dan dari keluarga tidak mampu untuk dapat didaftarkan ke PLA. Terapis di berikan secara gratis untuk pertumbuhan dan perkembangan anak," imbuhnya.

Salah seorang dari orang tua anak autis yang mendapatkan terapis di PLA,  asal Kandis, Aznawati, mengungkapkan, perkembangan anaknya yang menyandang autis Naufal Shadik (7,5 thn), kini sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Sudah bisa lakukan kontak mata, dan berinteraksi lainnya. Mulai paham juga dengan apa yang di bicarakan padanya. 

"Namun untuk terapis tidak bisa setiap hari dilakukan, karena kondisi tempat tinggal cukup jauh di Kandis. Maka, untuk terapi dilakukan sekali dalam dua hari," jelasnya.

Bukan hanya Naufal Shodik yang mengalami perubahan pada yang lebih baik. Para anak autis lainnya juga mengalami perkembangan yang cukup baik.**(mad)