Belum Ada Kesepakatan DPR dan Pemerintah Mengurangi Produk Legislasi
Kamis, 31 Maret 2016 - 00:00:00 WIB
JAKARTA -- Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon berpendapat belum ada kesepakatan antara pemerintah dengan DPR selaku pembuatan UU untuk mengurangi produk legislasi. Jika presiden berniat mengurangi produk UU di parlemen, mestinya melakukan pembicaraan dengan DPR. Sebab kata Fadli Zon dari 46 RUU Prolegnas tahun 2016 ini, usulan dari pemerintah sebanyak 13 RUU, 25 RUU dari DPR RI dan 2 RUU berasal dari DPD RI.
Fadli mengatakan sesuai UUD 1945, kekuasaan membuat UU itu berada di DPR RI. Kareanya yang meneken atau menandatangani UU itu mestinya DPR bukannya presiden, meski tanpa diteken Presiden setelah 30 hari tetap berlaku UU tersebut.
Fadli menambahkan meski RUU Prolegnasnya banyak, tapi yang selesai pembahasan RUU tetap sedikit. Misalnya tahun 2010 dari 70 RUU yang dibahas, hanya 10 yang disahkan. Setahun berikutnya hanya 11 dari 81 RUU yang diselesaikan. Pada tahun 2012 Cuma 10 dari 69 RUU yang selesai. Sedangkan tahun 2013, kembali menurun hanya 7 dari 75 RUU yang disahkan. Setahun berikutnya, kembali menurun hanya 5 dari 68 RUU yang selesai.
Fadli Zon mengatakan hal tersebut menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo saat menghadiri acar dialog publik Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Balai Kartini pada Rabu 30 Maret 2016 agar DPR cukup maksimal mengesahkan UU setiap tahunnya. Bagi Presiden, DPR hendaknya mementingkan kualitas UU bagi masyarakat, bangsa dan negara dibandingkan kuantitas UU yang disahkan. Menurut Jokowi, buat apa banyak melahirkan UU, tapi tidak memudahkan masyarakat dan menyulitkan pemerintah dalam mengeksekusi kebijakan.
“Pernyataan Jokowi tak perlu ditanggapi serius, karena pembuatan UU tidak hanya melibatkan DPR RI tapi juga pemerintah. Bahkan beberapa RUU yang diajukan pemerintah ke DPR bersifat mendadak seperti revisi UU KPK, Pilkada, RUU Tax Amnesty dan lain-lain,” tegas Wakil Ketua Umum Gerindra itu dalam dialetika demokrasi ‘Presdien Jokowi Minta DPR Tidak Banyak Produksi UU’ bersama pengamat politik tata negara dari Universitas Al-Azhar Jakarta, Rachmat Bagdja di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis 31 Maret 2016.
Bagaimana Pendapat Anda?
Bagikan Ke Yang Lainnya
Berita Lainnya
-
Minggu, 13 September 2015 - 00:00:00 WIB
Penghargaan Untuk Dulman, Petugas yang Tewas Saat Padamkan Kebakaran Hutan
Cianjur - Dulman Effendi (56), Kepala Resort Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh (sebelumnya disebut Kepala BBKSDA), Kecamatan Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat yang meninggal dunia saat upaya pemadaman lokasi dianugerahi gelar Anumerta oleh Dirjen Konservasi…
-
Minggu, 13 September 2015 - 00:00:00 WIB
Gudang Plastik di Cengkareng Jakbar Terbakar
Jakarta - Kebakaran terjadi di gudang plastik di Cengkareng, Jakarta Barat. Petugas masih berupaya memadamkan kobaran api. "Kebakaran gudang plastik di…
-
Minggu, 13 September 2015 - 00:00:00 WIB
Begini Kerennya Bandara Kalimarau yang Dipuji Menhub Jonan
Berau - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memuji Bandara Kalimarau, di Berau, Kalimantan Timur. Dia meminta seluruh bandara UPT Perhubungan di Indonesia meniru bandara ini. Seperti apa sih bagusnya?
-
Minggu, 13 September 2015 - 00:00:00 WIB
Pesan Terakhir Adang Joppy dan Firasat Saudara Kembar Soal Tragedi Crane
Bandung - Adang Joppy Lili (58), korban meninggal dunia dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram memiliki saudara kembar, Asep Joli. Sebelum Adang berangkat, Asep mengaku memiliki perasaan yang tak bisa dijelaskan. …



