JAKARTA -- Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung menyarankan agar Ketua Umum Partai Golkar mendatang tidak memiliki rangkap jabatan. Akbar meragukan di era sekarang ini, seorang pimpinan parpol mampu melaksanakan dua tugas penting sekaligus sebagai Ketum Parpol dan Ketua DPR.

Akbar mengaku pernah menyampaikan keraguannya itu kepada Wakil Ketum Partai Golkar Ade Komaruddin untuk tidak maju sebagai ketum Partai Golkar dalam Munaslub di Bali pada 15 Mei nanti.

“Publik berharap Ade fokus menjadi KetuaDPR karena kemorosotan DPR saat ini. Ini tugas (Ketua DPR-red) berat dan apakah mungkin bisa berhasil dan sukses?  Meskipun dia bilang bisa dan akan turun ke daerah pada setiap Sabtu dan Minggu seperti saya dulu,”ujar Akbar ketika dihubungi, Senin 9 Mei 2016.

Menurut Akbar situasi  dan kondisi saat ini bebeda dengan situasi dan kondisi saat dirinya menjadi ketua umum Golkar sekaligus ketua DPR.  Akbar menjelaskan awalnya dia menjadi ketum Golkar baru menjadi ketua DPR dipilih oleh DPR melalui voting.  PDI Perjuangan saat itu mendukungnya karena melihat kedekatan dan pengelamannya mempertahankan Partai Golkar yang porak poranda masa reformasi.

Ketika itu lanjut Akbar, dia sudah mampu melewati situasi yang amat berat,amat kritis dan menentukan keberlangsung hidup Golkar. Saat itu Golkar dihina, diminta dibubarkan dan terancam tidak bisa ikut pemilu.

“Kami mampu bertahan dan partai lolos dalam pemilu dan bahkan mendapatkan suara nomer dua terbanyak, PDIP dapat 150 kursi dan kami 120. Ini diluar dugaan banyak orang dan bahkan banyak pengamat yang ekstrem.Mereka mengatakan suara Golkar tidak akan mencapai 5 persen dan kami berhasil meraih lebih dari 20 persen. Situasi ini sekarang berbeda,” tambahnya.

Terkait dengan surat peryataan Ade Komaruddin sendiri dengan Ketum Partai Golkar untuk tidak maju menjadi ketua umum Partai Golkar, Akbar mempersilahkan dewan etik untuk melakukan tugasnya. Akbar meyakini, hal tersebut pasti akan ditanyakan oleh dewan etik partai Golkar.

Ditanyakan kader Partai Golkar yang memiliki suara dalam Munaslub akan percaya komitmen Ade jika menang dalam Munaslub, sementara surat perjanian di atas materai yang dia tandatangani bersama penguasa Golkar saat ini saja dia tidak menjalankan, Akbar tidak mau mengomentarinya.

“Kalau masalah komitmen itu kan biar nanti kader saja yang menilai. Saya tidak mau mengomentari hal itu,” katanya.**(bam)