SELATPANJANG -- Petani karet yang biasa beraktifitas sehari hari menorah karet kini mulai tidak terlihat di kebun kebun. Tempurung penampung getah karet juga tidak terpasang di pohon karet. Kondisi ini akibat rendahnya harga jual karet di penampungan sehingga membuat petani beralih profesi mencari pekerjaan lain untuk bertahun hidup

Anjloknya harga karet memang memukul telak kehidupan petani karet di Kepulauan Meranti. Harga upah mulai menoreh, mengumpulkan karet hingga membawa kepenadah tidak seimbang dengan harga pendapatan dari hasil jual karet sehingga jika dipaksakan akan mengalami kerugian.

Suparman petani karet yang kini berubah profesi sebagai jasa pembawa barang dengan kereta gerobak tak menepis kondisi nya. Ia pun berharap harga karet cepat kembali normal sehingga dapat menorah karet seperti biasanya.

"Sudah beberapa bulan ini saya bekerja menjual jasa antar barang dengan gerobak. Karena pekerjaan lama yakni menorah tidak dapat dilakukan lagi karena harga karet yang tidak sebanding dengan pengeluaran biaya dari toke,” katanya.

Menurutnya, kondisi Suparman juga di alami seluruh petani karet yang ada di Meranti.

"Hampir semua tukang toreh sudah berubah profesi kepekerjaan lain, ini harus di lakukan mengingat kelangsung kebutuhan pokok keluarga setiap hari harus di beli” ungkapnya.

Ia berharap Pemerintah dapat turun tangan menolong keluarga petani karet." setidaknya bantuan perhatian Pemkab Meranti sangat kami butuhkan, apalagi menyangkut kehidupan banyak petani di meranti,” harapnya.**(don)