PEKANBARU -- Adanya pernyataan yang disampaikan Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Syukri Harto yang menyebut Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru akan mengurangi jumlah Tenaga Harian Lepas (THL), karena saat ini jumlah THL sudah melebihi kebutuhan, membuat THL mulai resah.

Yanti (35) salah satunya yang menyampaikan ketakutannya jika sewaktu-waktu ia harus berhenti bekerja. "Jujur, saya was-was dan khawatir, saya tidak punya pekerjaan lain jika harus diberhentikan. Kita juga tidak tahu, apakah rasionalisasi ini fair apa tidak," ucapnya kepada wartawan, Kamis 21 Januari 2016.

Bisa saja, yang benar-benar kerja kena pangkas, tapi yang dekat dengan atasan dipertahankan, meskipun kerjanya tidak ada. "Saat ini kita sebagai THL hanya bisa pasrah dan semoga pemangkasan THL bisa di tinjau ulang," harapnya.

Hal senada juga disampaikan Deni (37) yang sudah enam tahun mengabdi di Pemko Pekanbaru, ia khawatir jika pengurangan THL ini benar-benar terjadi.

Bahkan ia berharap, jika memang itu terjadi, pemerintah harus sedikit selektif. Memilih siapa yang layak di rumahkan. 

"Kita ini pegawai lama, Bukan setahun dua tahun berkerja di Pemko, Pemerintah harus berlaku adil nantinya, jangan sampai kita disingkirkan begitu saja," cetusnya.

Disamping itu Deni berujar, modal untuk membuat usaha lain pun tidak ia punya, karena selama ini dirinya hanya tergantung pada gaji sebagai THL yang diterima setiap bulan. "Tidur pun sudah tidak enak lagi dek, setelah ada informasi pemangkasan THL," keluhnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi III DPRD Pekanbaru, mengharapkan pemangkasan THL harus dilakukan dengan cara-cara yang manusiawi.

"Jika memang harus terjadi pemangkasan THL, berikan hak-hak mereka. Apakah berupa tunjangan atau bonus agar mereka memiliki modal untuk kedepan," ujarnya singkat.**(dwi)