• Gubenur Riau, saat menyerahkan bantuan rumput laut kepada Nelayan, beberapa waktu lalu di Pantai tanjung lapin Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis.

BENGKALIS -- Demi membudidayakan Rumput Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bengkalis adalah salah satu bidang usaha yang memiliki pasar yang menjanjikan di bidang makanan, minuman, kosmetik dan kesehatan.


Disampaikan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis Ir. H. Amril Fakhri melalui Hendra Saputra sebagai penanggung jawab  Budidaya rumput laut, Senin 7 Desember 2015 menyampaikan bahwa DKP Bengkalis telah membudidayakan Rumput Laut kepada Nelayan Rupat Utara.

"Kita telah membudidayakan rumput laut jenis Euchema Katoni, bukan jenis lainnya, karena beberapa alasan dan pertimbangan, diantaranya menyesuaikan dengan harga pasar, permintaan pasar untuk saat ini jenis katoni, dan harga jual jenis katoni ini sangat tinggi," kata Hendra.

Hendra menambahkan, sejak tahun 2013 sampai 2014, DKP Bengkalis sudah melakukan ujicoba budidaya rumput laut ini, yang melakukan kerja sama bersama Balai Besar Perikanan Laut di Lampung, dengan mendatangkan tenaga ahlinya untuk melihat kondisi laut Rupat Utara ini.

"Alhamdulillah, setelah selama 2 tahun dengan metode yang digunakan mendapatkan hasil ujicoba bahwa jenis katoni cocok dibudidayakan, kemudian pada tahun 2015 kita mulai mengembangkannya kepada masyarakat nelayan. Dan targetnya adalah sebagai mata pencaharian alternatif mereka sehingga pendapatan mereka selaku nelayan jadi bertambah," katanya.

Dia melanjutkan, budidaya rumput laut ini dibagi dua, yang  pertama sebagai bibit yang bisa dipanen setelah berumur 25-30 hari, dan yang kedua untuk produksi yang bisa dipanen saat berumur 40-50 hari sebaiknya berumur 45 hari dengan harga jual dipasaran antara Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilogram dengan kondisi rumput yang telah kering.

"Harga jual rumput laut sebagaimana harga jual karet yang mengikuti harga pasar dunia, dalam memasarkan rumput laut ini kita telah mengundang beberapa pengusaha untuk menampungnya, dan saat ini kita tengah menunggu hasil uji laboratorium mereka untuk menerima atau tidak rumput laut yang kita produksikan dari Rupat Utara ini salah satunya adalah pabrik terbesar yang ada di Filipina," terang Hendra.

Selain itu, kendala di lapangan yang dihadapi saat ini  tidak ada, pola pikir masyarakat saja yang perlu sedikit dirubah yang selama ini mereka hanya menunggu tapi kedepannya menjadi mereka yang memulainya," Dan kemarin ada konflik dengan nelayan lain tapi sudah bisa diselesaikan langsung di masyarakat juga,"terangnya.

"Karena budidaya rumput laut ini baru bagi mereka, menurut mereka menganggu tempat mereka menangkap udang selama ini, padahal tidaklah demikian, kita mengajak mereka untuk melakukan budidaya rumput laut di tempat yang sama yang akhirnya para nelayan ini telah ikut bergabung membudidayakan rumput laut," tambahnya.**(put)