Gaungriau.com -- Sebagai agenda rutin bulanan, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar pengajian sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus membentuk civitas akademika menjadi insan cendekia yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baitul Hikmah Kampus Umri, Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, pada Jumat 28 Agustus 2026 pagi, menghadirkan Ustadz Dr. H. Mawardi M. Saleh, M.A. sebagai penceramah.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Mawardi mengangkat makna bulan Rabiul Awal, keteladanan Rasulullah Muhammad SAW., serta pentingnya membangun manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual dan akhlak.
Menurut Ustadz Mawardi, Rabiul Awal merupakan salah satu bulan penting dalam sejarah Islam yang mengingatkan umat terhadap berbagai peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah.
“Tiga peristiwa besar yang perlu kita renungkan adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW., hijrah Rasulullah ke Madinah, dan wafatnya Rasulullah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kelahiran Rasulullah menjadi momentum hadirnya seorang pembawa risalah yang mengajak manusia keluar dari kehidupan jahiliah menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, ilmu pengetahuan dan akhlak.
Sementara itu, hijrah Rasulullah ke Madinah bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah merupakan tonggak penting dalam pembangunan peradaban Islam sekaligus mengajarkan nilai perjuangan, pengorbanan, persaudaraan, perencanaan dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Adapun wafatnya Rasulullah, menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Karena itu, perjuangan dan keteladanan Rasulullah harus terus diwariskan serta diwujudkan dalam kehidupan umat.
Lebih lanjut, Ustadz Mawardi menekankan pentingnya tiga pilar dalam membentuk manusia unggul dan insan cendekia, yakni Tilawah, Tazkiyah dan Ta'lim.
Pertama, Tilawah, yang berarti membaca, memahami, dan merasakan makna ayat-ayat Allah SWT. Aktivitas ini tidak hanya dianggap sebagai pembacaan Al-Qur'an, tetapi juga sebagai pendorong bagi manusia untuk mempelajari dan menyadari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat dalam kehidupan dan alam semesta.
Kedua, Tazkiyah, yaitu proses pembersihan jiwa dan pengembangan akhlak mulia. Dalam pandangannya, kecerdasan intelektual harus sejalan dengan kebersihan hati dan perilaku yang baik. Pengetahuan yang tinggi seharusnya mampu menghasilkan individu yang jujur, dapat dipercaya, rendah hati, dan bertanggung jawab.
Ketiga, Ta'lim, yaitu pendidikan dan pengembangan pengetahuan. Seorang intelektual diharapkan memiliki antusiasme untuk belajar, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan ilmu agar dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Ketiga pilar tersebut, tambahnya, sejalan dengan misi Rasulullah yang dijelaskan dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 2, yaitu membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Kitab dan hikmah.
“Seorang intelektual bukan hanya mereka yang berpengetahuan. Mereka harus mampu membaca, memiliki jiwa yang bersih, dan terus menerus belajar. Oleh sebab itu, tilawah, tazkiyah, dan ta'lim harus menjadi bagian integral dari perkembangan manusia,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang signifikan dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki iman, integritas, dan rasa peduli sosial.
Dalam konteks Umri, nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membangun generasi yang dapat menyatukan iman, ilmu, dan amal. Para mahasiswa dan seluruh komunitas akademik diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai alat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Ustadz Mawardi juga mendorong seluruh komunitas akademik Umri untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam aspek kejujuran, kepercayaan, kecintaan terhadap ilmu, kesabaran, tanggung jawab, dan perhatian terhadap sesama.
Pengajian bulanan tersebut dihadiri oleh anggota komunitas akademik dan keluarga besar Umri. Kegiatan berlangsung khidmat dan menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan pemahaman keislaman di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan pengajian ini, Umri berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu menghasilkan insan cendekia yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan peduli terhadap umat dan bangsa.
Momentum Rabiul Awal diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan ritual, tetapi juga menjadi refleksi bagi seluruh keluarga besar UMRI untuk semakin mencintai Rasulullah, mengikuti akhlak beliau, serta menghidupkan nilai Tilawah, Tazkiyah, dan Ta'lim dalam kehidupan sehari-hari.***












































