Gaungriau.com (DUMAI) -- Sikapi keluhan warga Simpang Jepang RT 07 Kelurahan Bukit Nenas, Kecamatan Bukit Kapur Kota Dumai yang mengeluhkan proyek sumur bor tidak berfungsi karena debit air terlalu kecil, Camat Bukit Kapur Agus Gunawan S.Sos, melakukan peninjauan.

Didapati Camat dilapangan, dari peninjauan yang dilakukan Senin 22 Maret 2021, bahwa proyek yang telah di bangun sekitar dua tahunan lalu sekitar 2018-2019 tersebut, awalnya berfungsi sangat baik dan telah mengalirkan air ke rumah rumah, namun sekarang tidak berfungsi lagi.

"Kita akan sampaikan kepada Dinas terkait masalah proyek sumur bor air bersih ini, agar di tinjau ulang dan kembali di fungsikan," ujarnya.

Camat meminta kepada warga agar bersabar, permasalahan ini akan segera di carikan solusinya."Kita berharap kedepannya kepada rekanan bila ada pengerjaan proyek pemerintah untuk segera melaporkan ke intansi wilayah terdekat, terutama kantor kelurahan maupun Kecamatan, hingga bila ada kendala bisa langsung berkomunikasi dengan rekanan tersebut untuk mencari solusi hingga pekerjaan tersebut bisa berfungsi dan tidak merugikan banyak pihak,"sebutnya.

Ketua Ketua RT 07 Bukit Nenas M Sakri menceritakan kalau terhentinya atau tidak berfungsinya sumber air bersih tersebut ke rumah-rumah warga dikarenakan terjadinya tunggakan listrik yang tidak dibayar oleh renakan dimasa pemiliharaan, mengakibatkan pihak PLN mencabut meteran listrik di tempat tersebut.

"Tapi karena kendala biaya listrik di masa pemeliharaan proyek tidak pernah di bayar oleh pihak rekanan, maka diputuskan oleh manajemen PLN, serta mesin tanam air bor dinyatakan rusak (jatuh red) hingga tidak berfungsi total," ujar Ketua Sakri Kepada gaungriau.com, Senin 22 Maret 2021.

Ketua RT07 Bukit Nenas ini menjelaskan secara detil, bahwa proyek sumur bor dikerjakan sekitar 2018-2019 oleh rekanan dari Koperasi dengan nilai anggaran kurang lebih 500 juta. Waktu mengerjakan sumur bor digali dengan kedalaman sangat dalam dan diperuntukan untuk mengairi rumah rumah warga.

Proyek itu sempat mengeluarkan air, namun kendala biaya administrasi Listrik dan mesin pompa tanam rusak, hingga aliran air kerumah rumah terhenti, karena komplain warga pekerjaan pompa air tersebut kembali di perbaiki namun debitnya terlalu kecil.

"Karena debitnya terlalu kecil dan tidak memenuhi kebutuhan maka proyek tersebut hingga kini sudah tak berfungsi dan sangat di sesali," ujarnya.

Lebih lanjut Dia menceritakan kalau nilai kontrak dari proyek tersebut sekitar 500 jutaan, sesuai plang proyek, proyek ini melalui tender yang di menangkan oleh Koperasi. Setelah semuanya selesai dibangun sempat warga senang karena sudah keluar banyak air, namun sayangnya cuma bersifat tidak lama, karena saat ini kembali tidak bisa digunakan lagi.

"Kerena itulah, kami sangat berharap kepada pemerintah untuk kembali memperbaikinya, karena warga sangat membutuhkan air bersih," ungkapnya.

Ditempat terpisah, saat awak media ini menjumpai salah satu warga setempat Parno (45) mengatakan bahwa di wilayah mereka memang ada proyek sumur bor dibangun oleh Pemerintah. Namun tidak dapat difungsikan sampai sekarang, entah tak tau apa penyebabnya.

Warga saat ini mengeluh, karena kekurangan air bersih. Adanya krisis air bersih di wilayah Simpang Jepang ini,

Dengan turunnya Camat Bukit Kapur Agus Gunawan S.Sos ini, maka warga mengharap agar ada solusinya. Dan berharap supaya proyek sumur bor yang mangkrak dan pernah dibangun oleh Pemerintah ini segera berfungsi.**(bam/sar)