BENGKALIS -- Terkait dengan penegahan terhadap kapal KM Nabila II, yang dibawa oleh tekong Budiyanto dan dua orang Anaka Buah kapal (ABK) berinisial ER (32) dan SI (20) di benarkan oleh pihak Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun.

Hal ini dikatakan oleh Pelaksana Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Bea dan cukai Tanjung balai Karimun Dwi Saputra saat dihubungi oleh wartawan, Rabu 21 September 2016.

Diakatakan, bahwa peristiwa penegahan tersebut terjadi tepatnya di wilayah perairan Tanjung Parit. Dan KM Nabila II ini diduga melakukan pelanggaran kepabeanan dengan membawa bawang asal Malaysia.

Peristiwa yang terjadi seperti di sampaikan Dwi bermula dari kecurigaan terhadap kapal Nabila II yang diduga bermuatan bawang merah asal Malaysia, sempat terjadi kejar mengejar.

Mulanya ditambahkan Dwi, pada saat posisi masih mengejar dan posisi kapal bea cukai sandar di sebelah KM Nabila, begitu merapat petugas Bea dan Cukai langsung melompat ke kapal mereka dengan tujuan bisa menguasai kapal tersebut.

"Ya, pas petugas kita satu orang melompat ke kapal mereka, maka satu orang dari 3 orang tersebut langsung melompat kelaut,"tambah Dwi saputra.

Ketika satu  orang tersebut terjun maka kapal patroli milik bea dan cukai berhenti dilokasi tersebut, sementara KM Nabila II lari dengan membawa 1 orang petugas bea dan cukai.

"Ketika melihat satu orang terjun petugas berbalik arah dan menunggu selama satu jam dilokasi Tekong yang terjun tak kunjung timbul, "ucap dwi saputra yang disampaikan laporan oleh komandan Pasukan (Kopas).

Lanjut Dwi saputra ketika ditunggu selama satu jam, ternyata tak terlihat sama sekali tekong tersebut yang bernama budiyanto, sehingga Tim memutuskan untuk kembali mengejar kapal.

"Memang ketika itu petugas memikir bahwa didalam kapal KM Nabila tersebut ada 1 orang petugas, kawatir akan terjadi sesuatu maka diputuskan untuk mengejar kapal pompong, itu bagian penindakan dan operasi," jelasnya.

Ketika di tanya terkait dengan koordinasi dengan jajaran polres bengkalis, Dwi dengan ragu-ragu menjawab.

"Memang seharusnya dilakukan terutama komandan pasukannya, karena saya bukan berada  dilapangan, "tutup Dwi Saputra.**(fer)