PEKANBARU -- Sebanyak 40 orang guru-guru muatan lokal se Riau dan penulis buku bakal mengikuti Forum Group Discussion (FGD) dengan mengangkat tema tentang Konvensi Kaidah Tulis Baca Aksara Arab Melayu, yang ditaja oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau.
Menurut Ketua Paniti Dr. Suriani acara tersebut akan berlangsung selama dua hari yakni Jumat-Sabtu tanggal 4-5 Desember 2015 mendatang di Hotel Zaira jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru.
Sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya akan hadir sebagai narasumber seperti Dr. Mu'jizah dari Kementerian Pendidikan Nasional, Al Azhar Ketua Harian Lembaha Adat Melayu Riau, budayawan Riau Ahmad Darmawi, dosen Bahasa Arab UIN Suska Riau Drs. Masbukin M.Ag, dan Yahya Anak Raini dari Dewan Pentadbiran Aksara Nusantara (Depan) yang pernah menciptakan digitalisasi Arab Melayu.
"Kita akan menghadirkan narasumber-narasumber yang memang berkompeten di bidang yang kita bahas," ujar Suriani, Selasa 1 Desember 2015 di Pekanbaru.
Ia mengatakan FGD Konvensi Kaidah Tulis Baca Aksara Arab Melayu ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan tawaran tentang kaidah tulisan Arab Melayu karena hingga kini penulisan Arab Melayu di Indonesia belum baku.
Selain itu dalam jangka panjang diharapkan bisa bermanfaat bagi dosen dalam meneliti buku-buku lama yang ditulis menggunakan aksara Arab Melayu.
Sementara itu Drs, Ahmad Darmawi MAg, salah seorang narasumber, mengatakan hingga kini penulisan Arab Melayu di Indonesia belum seragam dan tidak baku. "Penulisan Arab Melayu di Indonesia selain tidak seragam juga banyak menyalahi kaidah-kaidah," ujar budayawan dan seniman Riau yang biasa dipanggil G.P Ade Dharmawi tersebut.
Dikatakan Budayawan Pilihan Sagang tersebut, jika dilihat secara saksama antara buku lama yang ditulis menggunakan Arab Melayu dengan buku terbitan baru banyak perbedaan terutama pada penggunaan huruf saksi. Jika dahulu penulis minim menggunakan huruf saksi namun sekarang buku-buku Arab Melayu terlaku banyak menggunakan huruf saksi dan banyak kesalahan.
Huruf saksi yang dimaksud Ahmad Darmawi adalah huruf Alim untuk penulisan A, Waw untuk U dan O dan Ya untuk vokal I dan E. "Belum bakunya penulisan Arab Melayu di Indonesia juga disebabkan oleh banyaknya serapan kosa kata asing sehingga banyak orang seperti kebingungan dalam menuliskannya," jelas Ade.
Ia berharap FGD tersebut nanti bisa melahirkan kesepahaman dalam penulisan aksara Arab Melayu di Riau meskipun di Malaysia sejak lama sudah penulisannya dibakukan.**(rls/nik)



