PEKANBARU -- Dalam beberapa kali razia yang digelar Satpol PP Kota Pekanbaru beberapa waktu lalu, ternyata masih ditemukan anak sekolah yang keluyuran disaat jam pelajaran.
Menanggapi hal itu anggota Komisi III DPRD Pekanbaru, Jhon Romi Sinaga, menilai sebuah bentuk masih lemahnya pengawasan semua pihak, baik sekolah, orangtua, dan masyarakat. Untuk itu, kewenangan untuk mengawasi pelajar yang akan jadi generasi penerus ini adalah milik semua pihak.
"Memang kondisi pelajar berkeluyuran di jam pelajaran merupakan fenomena lama yang harus dicarikan jalan keluarnya. Jika dibiarkan, maka akan melahirkan generasi bangsa yang lalai. Sungguh miris kita melihat puluhan pelajar terjaring razia saat berkeliaran di saat jam sekolah. Ingat, ini tanggung jawab kita bersama," ujar Jhon ketika berbincang bersama wartawan, Ahad 18 Oktober 2015.
Menurut Politisi PDI P, yang perlu dilakukan untuk menutup luang kepada pelajar berkeliaran yakni dengan memadatkan jadwal belajar dan kegiatan di sekolah. Jika alasan pelajar berkeliaran karena pelajaran tak ada lagi dan diminta pulang oleh guru, maka ini akan jadi perhatian bagi sekolah untuk menetapkan jadwal sekolah.
"Memang sekolah tak akan bisa memastikan anak muridnya langsung pulang ke rumah saat dipulangkan lebih awal. Untuk itu kita minta agar ada sebuah kegiatan di sekolah yang tujuannya positif agar anak-anak kita ini tak berkeliaran," pinta Jhon.
Selain itu, pemilik warnet dan penyedia tempat hiburan dan mainan, diminta menolak pelajar yang menggunakan seragam yang masih di jam belajar untuk masuk ke lokasi usahanya.
"Jika ini bisa dijalankan pemilik usaha, maka saya yakin tak akan ada tempat untuk pelajar kita berkeluyuran, disamping Pemko harus memberi sanki kepada tempat usaha hiburan yang membiarkan pelajar masuk disaat jam anak-anak masih sekolah," tuturnya.
Ditambahkan Jhon, Jika pelajar terjaring dalam razia, pelajar harus diamankan ke kantor, dipanggil orangtua kandungnya untuk menjemput dan diberikan surat peringatan.**(dwi)
Menanggapi hal itu anggota Komisi III DPRD Pekanbaru, Jhon Romi Sinaga, menilai sebuah bentuk masih lemahnya pengawasan semua pihak, baik sekolah, orangtua, dan masyarakat. Untuk itu, kewenangan untuk mengawasi pelajar yang akan jadi generasi penerus ini adalah milik semua pihak.
"Memang kondisi pelajar berkeluyuran di jam pelajaran merupakan fenomena lama yang harus dicarikan jalan keluarnya. Jika dibiarkan, maka akan melahirkan generasi bangsa yang lalai. Sungguh miris kita melihat puluhan pelajar terjaring razia saat berkeliaran di saat jam sekolah. Ingat, ini tanggung jawab kita bersama," ujar Jhon ketika berbincang bersama wartawan, Ahad 18 Oktober 2015.
Menurut Politisi PDI P, yang perlu dilakukan untuk menutup luang kepada pelajar berkeliaran yakni dengan memadatkan jadwal belajar dan kegiatan di sekolah. Jika alasan pelajar berkeliaran karena pelajaran tak ada lagi dan diminta pulang oleh guru, maka ini akan jadi perhatian bagi sekolah untuk menetapkan jadwal sekolah.
"Memang sekolah tak akan bisa memastikan anak muridnya langsung pulang ke rumah saat dipulangkan lebih awal. Untuk itu kita minta agar ada sebuah kegiatan di sekolah yang tujuannya positif agar anak-anak kita ini tak berkeliaran," pinta Jhon.
Selain itu, pemilik warnet dan penyedia tempat hiburan dan mainan, diminta menolak pelajar yang menggunakan seragam yang masih di jam belajar untuk masuk ke lokasi usahanya.
"Jika ini bisa dijalankan pemilik usaha, maka saya yakin tak akan ada tempat untuk pelajar kita berkeluyuran, disamping Pemko harus memberi sanki kepada tempat usaha hiburan yang membiarkan pelajar masuk disaat jam anak-anak masih sekolah," tuturnya.
Ditambahkan Jhon, Jika pelajar terjaring dalam razia, pelajar harus diamankan ke kantor, dipanggil orangtua kandungnya untuk menjemput dan diberikan surat peringatan.**(dwi)



