Gaungriau.com -- Sekolah yang dipenuhi tanaman, memiliki tempat sampah terpilah,menerapkan penghematan air dan listrik, serta rutin melakukan kegiatan kebersihan tentumerupakan pemandangan yang positif. Berbagai praktik tersebut menunjukkan adanya upayasekolah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Namun, di tengah semakin banyaknya gerakan sekolah ramah lingkungan di Pekanbaru,muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sekolah yang sudah hijau juga telah memilikipembelajaran yang hijau? Pertanyaan ini menjadi penting ketika kegiatan lingkungan semakinsering hadir dalam kehidupan sekolah.
Pendidikan lingkungan tidak seharusnya berhenti pada menciptakan halaman sekolah yangbersih dan asri. Lingkungan juga dapat menjadi bagian dari proses bagaimana siswamemperoleh pengetahuan, mengembangkan cara berpikir kritis, dan belajar mengambilkeputusan. Pendekatan yang menempatkan lingkungan sebagai konteks dan sumberpengalaman belajar tersebut dikenal sebagai pedagogi hijau.
Siswa tidak hanya diajakmelakukan kegiatan lingkungan, tetapi juga memahami persoalan, mengolah informasi,berdiskusi, dan menentukan tindakan berdasarkan apa yang dipelajari.
UNESCO dalam Green School Quality Standard menempatkan teaching and learning sebagaisalah satu dari empat dimensi utama sekolah hijau, bersama tata kelola, fasilitas dan operasional, serta keterlibatan masyarakat. Standar tersebut menekankan pembelajaran yangmendorong penyelidikan, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kerja sama untukmenghadapi persoalan keberlanjutan.
Dengan demikian, sekolah hijau tidak cukup dipahami sebagai sekolah yang memiliki lingkungan fisik yang hijau. Sekolah juga perlu membanguncara belajar yang membuat peserta didik memahami hubungan antara manusia dan lingkungan.
Bukan Sekadar Menanam Pohon
Perbedaan antara kegiatan lingkungan dan pedagogi hijau terletak pada bagaimana kegiatantersebut dihubungkan dengan proses pembelajaran. Ketika seorang siswa menanam tanaman,misalnya, kegiatan itu memang sudah memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi dapatdikembangkan menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Siswa dapat mengamatipertumbuhan tanaman, mencatat kebutuhan air, membandingkan kondisi tanaman pada tempatberbeda, kemudian mencari tahu hubungan antara cahaya, tanah, air, dan pertumbuhan. Dengancara tersebut, kegiatan menanam tidak berhenti sebagai aktivitas fisik, tetapi menjadi prosespengamatan dan penyelidikan.
Hal yang sama dapat diterapkan pada kegiatan memilah sampah. Siswa tidak hanya dimintamembuang sampah sesuai jenisnya, tetapi dapat mencatat jumlah sampah yang dihasilkansekolah, mengelompokkannya, membuat grafik, dan mencari sumber sampah terbanyak.
Hasilpengamatan tersebut kemudian dapat digunakan untuk merancang cara mengurangi sampah dilingkungan sekolah. Dalam satu kegiatan, siswa dapat sekaligus belajar sains, matematika,literasi data, komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah.
Dengan pola tersebut, kegiatan lingkungan tidak lagi berdiri di luar pembelajaran. Lingkunganmasuk ke dalam pembelajaran, sementara pembelajaran digunakan untuk memahami danmenyelesaikan persoalan lingkungan. UNESCO juga mendorong integrasi isu keberlanjutanke dalam berbagai mata pelajaran dan jenjang pendidikan agar lingkungan tidak dianggapsebagai materi tambahan.
Artinya, pendidikan lingkungan tidak harus menjadi tanggung jawabsatu guru atau satu kegiatan tertentu, tetapi dapat hadir dalam proses pembelajaran yang sudahberlangsung.
Pekanbaru dan Praktik Sekolah Hijau
Peluang untuk mengembangkan pendekatan tersebut sebenarnya semakin terbuka diPekanbaru. Pada Januari 2026, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru mendorong programPekanbaru Green City Hadir di Sekolah, Satu Anak Satu Polibag yang mengajak peserta didikmenanam dan merawat tanaman.
Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghijaukanlingkungan sekolah, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kedisiplinansiswa. Dinas Pendidikan juga menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan pembelajaran berbasis proyek dan pendidikan karakter.
Kondisi serupa terlihat dalam pengelolaan sampah melalui program Eco-Owly di MAN 2Pekanbaru. Program tersebut mendorong siswa memilah dan mengumpulkan sampahnonorganik serta mengembangkan rencana bank sampah. Pada sisi lain, praktik sekolah hijaujuga terlihat di SMP Negeri 4 Pekanbaru yang memiliki berbagai kegiatan peduli lingkungan.
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan di Pekanbaru sebenarnyatelah memiliki fondasi untuk mengembangkan budaya sekolah yang lebih berkelanjutan.
SMP Negeri 4 Pekanbaru menjadi salah satu contoh lokal yang menarik untuk melihat peluangtersebut. Pada 5 Agustus 2026, sekolah tersebut dikunjungi delegasi IMT-GT Green CitiesMayor Council untuk melihat penerapan konsep green city di Pekanbaru.
Pemerintah KotaPekanbaru menyebut SMPN 4 sebagai sekolah yang dinilai berhasil menerapkan konsep green school dan salah satu sekolah percontohan nasional dalam penerapan lingkungan berkelanjutan.
Dalam kunjungan tersebut, berbagai praktik diperlihatkan, mulai dari gerakan satu siswa satu polybag, penggunaan perlengkapan yang lebih ramah lingkungan, kreativitas dari bahan daur ulang, hingga pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot.
Laman resmi SMPN 4 juga menunjukkan kegiatan pembuatan biopori, penggunaan tumbler dan wadah sendiri, penghematan listrik dan air, serta pembuatan pupuk cair dari limbah. Pada kegiatan gotong royong, siswa dan guru terlibat dalam membersihkan lingkungan sekolah sekaligus membuat dan merawat lubang biopori.
Berbagai praktik tersebut merupakan modal yang kuat untuk mengembangkan pedagogi hijau karena lingkungan sekolah sudah menjadi bagian dari aktivitas siswa. Namun, dokumentasi publik yang tersedia lebih banyak menunjukkan kegiatan yang dilakukan daripada menjelaskan bagaimana kegiatan tersebut dihubungkan dengan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran.
Karena itu, tantangannya bukan mempertanyakan kepedulian sekolah terhadap lingkungan, melainkan bagaimana kepedulian tersebut diterjemahkan menjadi proses belajar yang sistematis.
Dari Kegiatan Menjadi Pengalaman Belajar
Kegiatan biopori, misalnya, tidak harus selesai setelah lubang dibuat. Siswa dapat mengamati kondisi tanah sebelum dan sesudah pembuatan biopori, mempelajari bagaimana air bergerak ke dalam tanah, dan mencari tahu mengapa genangan dapat terjadi.
Mereka juga dapat melihat hubungan antara struktur tanah, vegetasi, dan kondisi lingkungan di sekitar sekolah. Dari satu kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar yang berangkat dari persoalan nyata.
Pengalaman itu kemudian dapat dihubungkan dengan berbagai mata pelajaran. Pada IPA, siswa dapat membahas siklus air, tanah, dan ekosistem, sedangkan pada Matematika mereka dapat menghitung jumlah biopori atau mengolah data curah hujan dan volume air.
Pada Bahasa Indonesia, hasil pengamatan dapat dikembangkan menjadi laporan, sementara pada IPS siswa dapat mengaitkan kondisi lingkungan dengan aktivitas manusia. Bahkan dalam pembelajaran agama, persoalan lingkungan dapat dikaitkan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kehidupan.
Begitulah pedagogi hijau bekerja, yaitu menjadikan satu persoalan nyata sebagai bagian dari proses belajar yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Pendekatan yang sama dapat diterapkan pada sampah, penggunaan air, energi listrik, tanaman sekolah, maupun makanan yang dikonsumsi warga sekolah.
Siswa tidak hanya menerima penjelasan dari guru, tetapi terlibat dalam mengamati, mengolah informasi, berdiskusi, dan mencari solusi. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual sekaligus membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan keberlanjutan.
Tantangan dan Peluang Pedagogi Hijau
Tantangan utama pedagogi hijau bukan sekadar menyediakan fasilitas, tetapi mengubah budaya belajar. Sekolah mungkin sudah mempunyai taman, tempat sampah, komposter, atau kebun, tetapi fasilitas tersebut belum tentu membuat siswa memahami persoalan lingkungan secara mendalam. Risiko lainnya adalah kegiatan lingkungan berhenti pada rutinitas seperti penanaman, dokumentasi, dan penyusunan laporan tanpa proses lanjutan. Padahal, siswa perlu diberi kesempatan untuk bertanya, menyelidiki, mencoba solusi, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki tindakan.
Kesiapan guru juga menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Guru membutuhkan dukungan agar isu lingkungan dapat diintegrasikan dengan tujuan pembelajaran tanpa dipandang sebagai beban tambahan. UNESCO menekankan pentingnya waktu, sumber daya, dan dukungan pembelajaran bagi guru dalam membangun teaching and learning yang mendukung keberlanjutan.
Selain itu, program lingkungan juga perlu dijaga keberlanjutannya agar tidak hanya bergantung pada satu guru, satu ekstrakurikuler, atau satu kelompok siswa.Di sisi lain, peluang terbesar justru terdapat di lingkungan sekolah sendiri. Sampah, penggunaan air dan listrik, tanaman, ruang terbuka, serta drainase dapat menjadi bahan pembelajaran tanpa harus mencari persoalan yang jauh dari kehidupan siswa. Gerakan Satu Anak Satu Polibag, misalnya, dapat dikembangkan menjadi proyek pengamatan jangka panjang dengan mencatat pertumbuhan tanaman, membandingkan hasil, dan menarik kesimpulan mengenai faktor yang memengaruhinya.
Dengan cara tersebut, program penghijauan tidak berhenti pada “menanam”, tetapi berkembang menjadi “menanam, mengamati, memahami, dan mengambil keputusan”.Pedagogi hijau juga tidak berarti sekolah harus menambahkan mata pelajaran baru. Permen LH/BPLH Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata menegaskan bahwa pendidikan lingkungan dapat diintegrasikan melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Guru dapat menggunakan persoalan lingkungan lokal sebagai konteks untuk mempelajari materi yang sudah ada. Dengan begitu, siswa belajar bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga melalui lingkungan.
Dari Sekolah Hijau Menuju Generasi yang Berpikir Hijau
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pedagogi hijau tidak cukup berhenti pada jumlah tanaman yang tumbuh, banyaknya sampah yang dikumpulkan, atau penghargaan lingkungan yang diterima sekolah. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan pada peserta didik setelah mereka terlibat dalam berbagai kegiatan tersebut.
Apakah siswa mampu memahami penyebab persoalan lingkungan, membaca data, melihat hubungan sebab-akibat, berdiskusi untuk mencari solusi, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari?Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa tujuan pedagogi hijau jauh lebih besar daripada sekadar menciptakan sekolah yang bersih.
SMPN 4 Pekanbaru menunjukkan bahwa fondasi untuk mengembangkan pendekatan tersebut sebenarnya telah tersedia. Berbagai kegiatan lingkungan yang telah berjalan dapat menjadi pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih kontekstual dan berorientasi pada tindakan. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah penguatan pada sisi pembelajaran agar kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan lingkungan sekolah yang lebih baik, tetapi juga peserta didik yang lebih mampu memahami persoalan ekologis.
Pada akhirnya, sekolah yang benar-benar hijau adalah sekolah yang membuat lingkungannya menjadi bagian dari cara siswa belajar, berpikir, dan bertindak.
Penulis: Abdullah Abiyyu























