Gaungriau.com -- Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru bersama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menggelar Dialog Interaktif Luar Studio dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026, Rabu, 20 Mei 2026.
Kegiatan dengan mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” ini berlangsung di Kampus Utama UMRI, Jalan Tuanku Tambusai Ujung, Pekanbaru.
Dialog yang disiarkan melalui RRI Pro 1 Pekanbaru tersebut menghadirkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Riau Dr. H. Boby Rachmat, S.STP., M.Si., Rektor UMRI Dr. H. Saidul Amin, M.A., serta Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI Jayus, S.Sos., M.I.Kom.
Mengambil format siaran langsung dari luar studio, kegiatan mempertemukan pemerintah daerah, perguruan tinggi, media penyiaran publik, dan mahasiswa dalam satu ruang diskusi mengenai tantangan generasi muda di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menjadi titik berangkat pembahasan mengenai pentingnya mempersiapkan generasi muda sebagai penerus bangsa. Semangat Kebangkitan Nasional dinilai perlu diterjemahkan sesuai konteks zaman, tidak hanya melalui nasionalisme dan persatuan, tetapi juga melalui kemampuan menghadapi perubahan teknologi, derasnya arus informasi, dan perkembangan media sosial.
Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Riau, Boby Rachmat, menekankan pentingnya generasi muda memahami perjuangan para pendahulu bangsa sekaligus mampu menjawab tantangan pada masa sekarang. Jika generasi awal kebangkitan nasional berjuang membangun kesadaran kebangsaan melalui pendidikan dan organisasi, generasi saat ini juga dituntut menguasai teknologi informasi.
Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan, literasi, produktivitas, dan kualitas kehidupan masyarakat. Sebaliknya, pemanfaatan media sosial yang tidak disertai etika dan tanggung jawab dapat menimbulkan persoalan baru, termasuk memperlemah persatuan.
Rektor UMRI Saidul Amin memandang peringatan Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme generasi muda. Masa depan Indonesia, menurutnya, sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang tumbuh hari ini.
Karena itu, pendidikan generasi muda tidak cukup hanya diarahkan pada kemampuan akademik. Karakter, integritas, kepedulian sosial, kecakapan teknologi, dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia juga menjadi aspek penting yang perlu terus diperkuat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI Jayus, S.Sos., M.I.Kom. menilai perkembangan media dan teknologi digital membuat makna menjaga kedaulatan bangsa semakin luas. Ruang digital kini menjadi salah satu arena penting dalam pembentukan pengetahuan, opini, identitas, bahkan perilaku generasi muda.
“Generasi muda kita hidup dalam lingkungan komunikasi yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi hadir hampir tanpa batas dan setiap orang tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga dapat menjadi produsen serta penyebar informasi. Karena itu, kemampuan menggunakan media secara kritis, etis, dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjaga generasi muda sekaligus menjaga ruang informasi kita,” ujar Jayus.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami dampak sosial dari komunikasi digital.
“Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan perangkat atau aplikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mampu menilai informasi, memahami konteks, tidak mudah terpengaruh disinformasi, serta menggunakan media untuk menghasilkan sesuatu yang positif bagi masyarakat,” katanya.
Jayus juga mengapresiasi kolaborasi RRI Pekanbaru dengan UMRI melalui pelaksanaan Dialog Interaktif Luar Studio di lingkungan kampus.
Menurutnya, kolaborasi dengan lembaga penyiaran publik memberikan pengalaman yang berbeda bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah isu publik dikemas menjadi program media.
“Bagi Fakultas Ilmu Komunikasi, kegiatan seperti ini sangat relevan. Mahasiswa tidak hanya mendengar pembahasan mengenai persoalan kebangsaan, tetapi juga melihat secara langsung praktik komunikasi publik dan produksi program penyiaran. Ini merupakan bentuk pembelajaran yang kontekstual sekaligus implementasi kerja sama yang memberi manfaat langsung kepada mahasiswa,” jelasnya.
Dialog tersebut juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan. Salah seorang mahasiswa UMRI, Nona Friyuni, menyampaikan komitmennya untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarluaskan informasi positif mengenai perkembangan Indonesia.
Keterlibatan mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menjadi sasaran pesan kebangsaan, tetapi juga memiliki peran sebagai pelaku komunikasi yang dapat membangun ruang digital yang sehat dan produktif.
Pelaksanaan Dialog Interaktif Luar Studio di Kampus UMRI juga memperlihatkan perubahan pendekatan media penyiaran publik dalam menjangkau generasi muda. RRI tidak hanya menghadirkan program dari studio, tetapi membawa proses produksi siaran langsung ke lingkungan kampus dan berinteraksi dengan sivitas akademika.
Berdasarkan rundown kegiatan, siaran dimulai pukul 14.00 WIB melalui pembukaan program dan pengenalan narasumber. Dialog kemudian berlangsung dalam beberapa sesi dan diselingi penampilan hiburan. Format tersebut menjadikan kegiatan tidak sekadar seminar atau diskusi kampus, tetapi bagian dari produksi program penyiaran RRI yang terstruktur.
Kolaborasi antara RRI Pekanbaru dan UMRI ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang komunikasi publik. Isu yang dibahas di lingkungan akademik tidak berhenti di dalam kampus, tetapi dapat didiseminasikan kepada masyarakat melalui media penyiaran.
Bagi FIKOM UMRI, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan jejaring dengan media dan lembaga penyiaran publik. Kerja sama semacam ini membuka peluang bagi pengembangan berbagai program lanjutan, mulai dari dialog publik, kuliah praktisi, pelatihan penyiaran, produksi konten, magang mahasiswa, literasi media dan digital, hingga kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2026 sendiri mengangkat tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Dalam konteks perkembangan teknologi saat ini, semangat tersebut tidak hanya berkaitan dengan menjaga persatuan dan nasionalisme, tetapi juga dengan kemampuan bangsa mempersiapkan generasi muda agar mampu hidup, berkomunikasi, dan berpartisipasi secara sehat dalam ruang digital.
Melalui Dialog Interaktif Luar Studio tersebut, RRI Pekanbaru dan UMRI menghadirkan semangat Kebangkitan Nasional lebih dekat kepada mahasiswa. Dari lingkungan kampus, pesan mengenai nasionalisme, literasi digital, etika bermedia, serta tanggung jawab generasi muda disampaikan kepada khalayak yang lebih luas melalui media penyiaran publik.***

























