Gaungriau.com --Senja tanggal 17 Agustus 2026 akan dikenang sebagai salah satu sore yang sangat berarti bagi Rajwa Nailatul Izzah.
Di tengah-tengah barisan Paskibraka dari Kabupaten Bengkalis, langkah gadis berusia 16 tahun itu terlihat percaya diri. Dengan mengenakan seragam kebanggaan Paskibraka, Rajwa mendapatkan tugas untuk membawa baki yang digunakan untuk mengambil Sang Merah Putih dalam acara penurunan bendera HUT ke-81 Republik Indonesia.
Sang Merah Putih yang sejak pagi berkibar dengan gagah di atas langit Bengkalis mulai diturunkan secara perlahan. Dengan rasa hormat yang besar, Rajwa menerima bendera tersebut di atas baki dan kemudian menyerahkannya kepada pembina upacara, yang juga merupakan Wakil Bupati Bengkalis Dr H Bagus Santoso.
Bagi Rajwa, pengalaman ini bukan hanya sekadar bagian dari rangkaian acara.
Ada perasaan haru, kebahagiaan, dan kebanggaan karena untuk pertama kalinya ia dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka.
“Senang bisa melaksanakan tugas dan membuat keluarga bangga. Jika ada kesalahan, itu akan menjadi pelajaran bagi saya di masa depan,” ungkap Rajwa.
Siswi MAN 1 Bengkalis itu merupakan putri sulung pasangan Muhammad Asrul dan Rika Sri Wahyuni. Sejak awal, Rajwa memiliki keinginan kuat untuk menjadi bagian dari Paskibraka, meski sebelum mengikuti seleksi ia sempat diliputi rasa ragu dan kurang percaya diri.
Namun keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan.
Dukungan orang tua, teman-teman dan para pelatih membuat Rajwa berani melewati setiap tahapan seleksi hingga akhirnya dipercaya menjadi salah satu anggota Paskibraka Bengkalis tahun 2026.
15 Hari yang Mengubah Banyak Hal
Sekitar 15 hari menjalani pendidikan dan latihan menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan Rajwa.
Bukan hanya kekuatan fisik yang ditempa. Mental, kedisiplinan, keberanian dan tanggung jawab juga menjadi bagian dari latihan sehari-hari.

Senyum bangga keluarga Rajwa Nailatul Izzah usai putri sulung mereka menuntaskan tugas sebagai Paskibra Bengkalis pada upacara penurunan bendera HUT ke-81 RI
“Kesannya luar biasa. Kami dilatih mental dan kedisiplinan agar menjadi manusia yang lebih baik dan disiplin,” ujarnya.
Dari proses tersebut, Rajwa menyadari bahwa menjadi Paskibraka bukan hanya tentang kemampuan baris-berbaris.
Ada tanggung jawab besar yang harus dijaga ketika membawa nama daerah dan berdiri di hadapan Sang Merah Putih.
Pengalaman itu pula yang membuat Rajwa semakin percaya diri menatap masa depan.
Ia menyimpan cita-cita untuk menjadi Polisi Wanita atau Polwan. Jika belum mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Rajwa ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan mengambil jurusan hukum.
Baginya, kedua jalan tersebut sama-sama memiliki tujuan mulia, yakni mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
Tangis Haru di Balik Kebanggaan Orang Tua
Di balik keberhasilan Rajwa menjalankan tugas, ada orang tua yang terus memberikan doa dan dukungan.
Muhammad Asrul dan Rika Sri Wahyuni menjadi dua sosok yang paling bangga melihat putri sulung mereka mampu menyelesaikan seluruh rangkaian tugas Paskibraka.
Rika mengatakan, keinginan mengikuti Paskibraka datang dari diri Rajwa sendiri. Sebagai orang tua, ia hanya berusaha memberikan dukungan terbaik.
“Ini kebanggaan tersendiri bagi kami sekeluarga. Untuk cita-citanya, kami serahkan kepada Rajwa. Yang penting kami sebagai orang tua tetap mendukung,” ujar Rika.
Rika yang memiliki empat anak hadir menyaksikan momen tersebut bersama tiga anak lainnya, Muhammad Rakan Nuruddin Dzaki, Raihana Azzahra dan Rizqia Sanaya Arka.
Bagi keluarga, keberhasilan Rajwa menjadi Paskibraka bukan hanya soal prestasi.
Lebih dari itu, menjadi Paskibraka telah memberikan pengalaman dan pembelajaran berharga bagi perjalanan hidupnya.
Sang Ayah Melihat Perubahan Rajwa
Muhammad Asrul juga merasakan perubahan dalam diri putrinya setelah mengikuti proses pendidikan dan latihan.
Menurutnya, Rajwa yang selama ini dikenal cukup manja justru mampu menunjukkan sisi berbeda ketika menjalani tugas sebagai Paskibraka.
Ia menjadi lebih disiplin, berani dan bertanggung jawab.
“Awalnya saya sempat ragu. Tapi hampir dua bulan sebelum pelaksanaan, Rajwa mulai menunjukkan semangat dan motivasi yang kuat, apalagi karena dukungan teman-teman dan para pelatih,” ungkap Asrul.
Bagi Asrul, nilai terpenting dari kegiatan Paskibraka bukan semata-mata ketika anak-anak itu mampu mengibarkan atau menurunkan bendera dengan sempurna.
Namun bagaimana proses tersebut membentuk karakter mereka.
“Yang paling penting bagi saya, mereka mendapatkan mental, keberanian dan disiplin. Semoga apa yang didapat selama proses ini bisa bermanfaat untuk masa depan mereka,” katanya.
Dari Baki Menuju Sebuah Cita-Cita
Ketika tugas penurunan bendera selesai, Rajwa kembali menemui keluarganya.
Tidak ada lagi barisan yang harus dijaga. Tidak ada lagi aba-aba pelatih. Yang tersisa adalah rasa lega dan bahagia setelah melewati perjalanan panjang.
Namun pengalaman itu akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dari seorang gadis yang sempat ragu, Rajwa kini belajar tentang arti keberanian.
Dari seorang anak yang dikenal manja, ia belajar tentang kedisiplinan dan tanggung jawab.
Dan dari sebuah baki yang dibawanya di hadapan Merah Putih, Rajwa membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: keyakinan untuk mengejar masa depan.
Hari itu, Rajwa bukan hanya membawa Sang Merah Putih.
Ia juga membawa doa kedua orang tuanya, kebanggaan keluarganya dan sebuah mimpi untuk suatu hari mengenakan seragam Polwan.
Sebuah langkah kecil di hadapan Merah Putih, tetapi bisa menjadi awal dari perjalanan besar menuju pengabdian kepada bangsa dan negara.(put)















