Gaungriau.com -- Pihak Sekolah Dasar (SD) Negeri 189 Pekanbaru memberi penjelasan terkait terjadinya polemik terhadap pembelian tong sampah yang sempat dipertanyakan anggota DPRD Pekanbaru. Pembelian tong sampah yang menjadi faktor pendukung program adiwiyata tingkat nasional dan green school ini merupakan inisiatif dari orangtua siswa.
"Pembelian tong sampah ini sudah kami sepakati bersama orangtua siswa saat rapat. Tidak ada hubungannya dengan kepala sekolah. Ini semua ini inisiatif dari orangtua siswa," kata Ferdi, salah seorang orang tua murid, ketika ditemui, Rabu 13 Mei 2026, di Pekanbaru
Ferdi menceritakan awal pembelian tong sampah ini hasil dari rapat orangtua siswa kelas 4 dan 5. Dari hasil rapat orangtua sepakat menyumbang secara sukarela untuk membeli tong sampah yang disepakati dengan harga Rp 900 ribu. Setelah dibeli ternyata banyak siswa uang berlebih dan dikembali ke orangtua.
"Pembelian tong sampah ini sebagai bentuk dari perhatian orangtua siswa terhadap lingkungan sekolah. Kami hanya menyumbang berkisar, ada yang nyumbang Rp 15 ribu, Rp 20 ribu tergantung orangtua yang mau menyumbang. Tidak ada paksaan," kata Ferdi
Menurut Ferdi, adanya pemberitaan yang menyudutkan kepala sekolah ini tentunya berdampak kepada nama baik sekolah. Tidak ada yang namanya pungutan liar. Semua sudah melalui prosedur mulai rapat orangtua semuanya setuju.
"Jangan adanya iuran uang hanya Rp 15 ribu saja, keberhasilan dan prestasi kepala sekolah dalam memajukan sekolah selama ini hilang begitu saja," kata Ferdi.
Orangtua siswa lainnya Fitria Eriyati juga mengatakan hal yang sama. Dalam pembelian tong sampah sekolah ini murni inisiatif dari orangtua siswa kelas 4 dan 5. Tidak ada kaitannya dengan sekolah.
"Memang ada beberapa orangtua murid, 1 atau 2 orang yang tidak setuju, ya tidak kami paksa untuk menyumbang. Dalam rapat orangtua semuanya setuju. Tidak ada paksaan dan nominalnya tidak ditentukan harus nyumbang segini, segitu, harus menyumbang," kata Fitria orangtua siswa kelas 4.
Sementara itu, Kepala SDN 189 Pekanbatu Yuli Astuti mengatakan saat ini, sekolah sedang mempersiapkan program adiwiyata tingkat nasional. Tidak hanya, program adiwiyata, sekolah juga sedang menyukseskan program green school yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Salah satu kesiapan dokumen adiwiyata menyangkut dengan kebersihan lingkungan sekolah.
Adanya pemberitaan pungutan liar untuk pembelian tong sampah langsung dibantah oleh Yuli. Pembelian tong sampah ini merupakan inisiatif orangtua siswa Tidak ada hubungan dengan sekolah.
"Orangtua maunya tong sampah yang bagus sedikit. Sekolah hanya menerima. Sistem gimana, uang dari mana, sistem mengumpulkan saya tidak tahu. Itu semua orangtua siswa," kata Yuli.
Menurut Yuli dalam memajukan dunia pendidikan, kolaborasi orangtua siswa, sekolah dan pihak swasta tidak dapat dipisahkan. Kalau orangtua ingin menyumbang, tidak ada paksaan, apa salahnya.
"Jadi inilah yang terjadi jangan sampai kita membatasi kalau ada orangtua ingin berkontribusi untuk pendidikan," kata Yuli. (izal)























