Gaungriau.com -- Masalah sampah memang bukan cerita baru di Pekanbaru. Tapi belakangan, ada perubahan yang mulai terasa. Perlahan, tumpukan sampah yang dulu mudah ditemui di berbagai sudut kota kini mulai berkurang.
Di balik perubahan itu, ada satu gerakan yang jadi titik awal: Gerakan Serbu Sampah. Program yang diinisiasi Wali Kota Agung Nugroho ini bukan sekadar slogan. Sejak diluncurkan, gerakan ini langsung menyasar persoalan utama—tumpukan sampah di jalanan dan Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Hasilnya mulai terlihat di lapangan. Di beberapa titik yang sebelumnya dikenal sebagai “langganan sampah”, kini kondisinya jauh lebih bersih.
Salah satunya di kawasan Jalan HR Soebrantas. Jika dulu sampah masih menumpuk hingga siang hari, kini justru sudah bersih sejak pagi.
“Sekarang sebelum jam 07.00 WIB sampah sudah diangkut. Jauh lebih bersih dibanding sebelumnya,” kata Anwar, warga setempat.
Perubahan ini bukan terjadi begitu saja. Gerakan Serbu Sampah melibatkan banyak pihak—mulai dari lurah, camat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), hingga pihak ketiga dan pengelola sampah mandiri.
Wakil Wali Kota Markarius Anwar juga ikut turun tangan memastikan program ini berjalan. Targetnya jelas: dalam 100 hari pertama kepemimpinan mereka waktu itu, Pekanbaru harus lebih bersih, lebih tertata, dan bebas dari tumpukan sampah.
Meski hasilnya mulai terlihat, pemerintah kota mengakui masih ada pekerjaan rumah. Beberapa titik masih ditemukan tumpukan sampah yang belum tertangani optimal.
Wali kota Agung Nugroho pun tak tinggal diam. Ia mengingatkan camat dan lurah agar lebih sigap, sekaligus meminta DLHK meningkatkan perhatian di wilayah-wilayah yang masih bermasalah.
Ia juga mendorong koordinasi hingga ke tingkat keamanan, termasuk melibatkan Bhabinkamtibmas dan pihak kepolisian. Menurutnya, kebersihan kota bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.
Program ini bahkan dikaitkan dengan gerakan yang lebih besar, yakni program nasional kebersihan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, pemerintah juga menekankan pentingnya peran masyarakat. Salah satu langkah yang diterapkan adalah pengaturan jam buang sampah. Warga diimbau untuk membuang sampah pada malam hari, mulai pukul 19.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Tujuannya sederhana: agar aktivitas siang hari tidak terganggu oleh bau dan tumpukan sampah.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan. Tanpa partisipasi warga, upaya pemerintah tentu tidak akan maksimal.
Selain Gerakan Serbu Sampah, langkah penting lain yang dilakukan Pemko adalah membentuk Lembaga Pengelola Sampah (LPS) di tingkat kelurahan.
Saat ini, LPS sudah hadir di 83 kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan. Perannya cukup vital, yakni menjadi ujung tombak pengangkutan sampah langsung dari rumah warga.

Konsepnya sederhana tapi efektif: warga cukup meletakkan sampah di depan rumah, lalu petugas LPS akan menjemputnya.
Pemko menargetkan pengangkutan ini bisa dilakukan setiap hari. Minimal, sampah harus diangkut satu kali dalam dua hari agar tidak menumpuk.
Meski sudah berjalan, sistem LPS masih terus dievaluasi. Beberapa kendala masih ditemukan, mulai dari armada yang rusak hingga komunikasi yang belum optimal dengan warga.
Kepala DLHK, Reza Aulia Putra, menyebut pihaknya terus memberikan dukungan, termasuk membantu armada jika diperlukan.
Masalah lain yang cukup mengganggu adalah keberadaan angkutan sampah ilegal. Oknum ini kerap mengangkut sampah tanpa izin, lalu membuangnya sembarangan di pinggir jalan—yang justru menciptakan titik sampah baru.
Di tengah tantangan itu, Pemko juga memberi perhatian pada petugas di lapangan. Mereka dianggap sebagai garda terdepan yang menjaga kebersihan kota setiap hari.
Sebagai bentuk apresiasi, Agung Nugroho menyiapkan hadiah umrah gratis bagi LPS dengan kinerja terbaik. Tak hanya itu, sebanyak 800 paket sembako juga disiapkan untuk mendukung para petugas.
“Kita harus support pasukan lapangan ini,” ujar Agung.
Upaya membenahi persoalan sampah di Pekanbaru memang tidak bisa selesai dalam semalam. Tapi langkah-langkah yang dilakukan saat ini menunjukkan arah yang jelas.
Dari Gerakan Serbu Sampah hingga pembentukan LPS, semuanya saling terhubung dalam satu tujuan: menjadikan Pekanbaru kota yang bersih, nyaman, dan layak huni.
Kini, tinggal bagaimana semua pihak—pemerintah, petugas, dan masyarakat—bisa terus berjalan seirama. Karena pada akhirnya, kota yang bersih bukan hanya program, tapi kebiasaan yang harus dijaga bersama.

Tidak hanya menyehatkan Lingkungan, Kesehatan Rohani juga menjadi perhatian
Semangat hidup sehat kini semakin terasa di Pekanbaru. Tak sekadar wacana, upaya membudayakan pola hidup aktif diwujudkan melalui gelaran Event Lari Pekanbaru 10K yang dirangkai dengan peresmian Stadion Mini Gelora Hang Tuah. Dua agenda ini menjadi simbol kuat komitmen daerah dalam mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan.
Event Pekanbaru 10K sukses menyedot perhatian ribuan peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelari profesional, komunitas olahraga, hingga masyarakat umum, semuanya tumpah ruah memenuhi rute lomba sejak pagi hari. Antusiasme ini menunjukkan bahwa olahraga lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang diminati.
Lebih dari sekadar kompetisi, Pekanbaru 10K juga menjadi ruang interaksi sosial yang positif. Warga tidak hanya berolahraga, tetapi juga saling menyemangati dan membangun kebersamaan. Nuansa kebugaran berpadu dengan semangat komunitas menciptakan atmosfer yang energik dan inspiratif.
Momentum ini semakin istimewa dengan peresmian Stadion Mini Gelora Hang Tuah. Kehadiran fasilitas olahraga baru ini diharapkan menjadi pusat aktivitas masyarakat dalam menjaga kebugaran.
Stadion ini tidak hanya diperuntukkan bagi atlet, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin berolahraga secara rutin.
Pembangunan Stadion Mini Gelora Hang Tuah menjadi langkah strategis dalam menyediakan ruang publik yang sehat dan produktif.
Dengan fasilitas yang memadai, masyarakat kini memiliki akses yang lebih luas untuk berolahraga tanpa harus bergantung pada sarana terbatas. Hal ini tentu berdampak positif dalam jangka panjang, terutama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Kombinasi antara event olahraga seperti Pekanbaru 10K dan penyediaan infrastruktur seperti stadion mini mencerminkan pendekatan yang komprehensif. Tidak hanya mengajak masyarakat untuk bergerak, tetapi juga menyediakan tempat yang layak untuk melakukannya.
Lebih jauh, kegiatan ini juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor lain, seperti pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran peserta dari luar daerah, misalnya, turut memberikan dampak terhadap pelaku usaha kecil, mulai dari kuliner hingga penginapan.
Pada akhirnya, Pekanbaru 10K dan peresmian Stadion Mini Gelora Hang Tuah bukan sekadar seremoni. Ini adalah langkah nyata dalam membangun budaya hidup sehat yang berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, harapan untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif bukanlah hal yang mustahil.
Gaya hidup sehat kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dan Pekanbaru telah menunjukkan bahwa perubahan itu bisa dimulai dari langkah sederhana—berlari bersama dan memanfaatkan fasilitas yang ada.
(adv)



















