Gaungriau.com -- Suatu momen penting terjadi di Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) ketika dua dosen resmi menjadi profesor dalam Sidang Senat Terbuka, Rabu 25 Februari 2026.
Ini adalah pengukuhan profesor pertama sejak universitas tersebut didirikan. Kedua profesor tersebut adalah Prof Dr Ir Ahmad Kafrawi Nasution, MT, PhD yang mengkhususkan diri dalam biomaterial terdegradasi di bidang Teknik Mesin, dan Prof Dr Jufrizal Syahri, M. Si yang ahli dalam Ilmu Kimia Organik.
Rektor Umri, Dr Saidul Amin, MA merasa bahwa pengukuhan profesor ini sangat berarti karena merupakan pengakuan atas kematangan ilmu dan juga kehormatan akademik.
Dalam lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, gelar profesor bukan sekadar jabatan, tetapi simbol integritas ilmu dan kepribadian.
Status ini akan melekat seumur hidup dan menanggung tanggung jawab moral, termasuk membina generasi magister dan doktor serta menjadi teladan dalam pengembangan ilmu.
Ia mengatakan bahwa harapannya adalah profesor tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Mereka diharapkan dapat menghasilkan riset berkualitas tinggi yang dapat menyelesaikan masalah bangsa serta menjadi inspirasi bagi generasi muda," katanya.
Kepala LLDIKTI Wilayah XVII, Dr H Nopriadi, SKM, M. Kes juga memberikan apresiasi dan menggunakan istilah Minang "pacah talua" untuk menggambarkan pengukuhan kedua guru besar di Umri ini.
Menurutnya, keberadaan guru besar menjadi tanda kemajuan tridarma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Prestasi ini dianggap sebagai lambang kualitas institusi.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Prof Kafrawi menjelaskan tentang perubahan biomaterial yang saat ini berkembang dengan cepat dalam dunia kesehatan.
Inovasi terbaru mencakup penggunaan logam seperti magnesium, zink, dan besi yang dapat terdegradasi secara terkendali.
Di sisi lain, Prof Jufrizal menyoroti tantangan malaria global yang masih tinggi, serta memperbincangkan perjalanan panjang dalam menemukan obat untuk malaria.
Saat ini, pendekatan modern memanfaatkan Computer-Aided Drug Design (CADD) yang mempercepat penemuan kandidat obat dengan simulasi komputer.
Sebagai bentuk penghargaan, Umri juga memberikan hadiah berupa umrah kepada kedua akademisi tersebut selain toga profesor. (mad)























