• Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar kegiatan Expert Lecturer yang dirangkaikan dengan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriyah bersama Prof Dr Abdi Omar Shuriye, Rabu 11 Februari 2026

Gaungriau.com -- Bertempat di Auditorium Kampus utama, Jalan Tuanku Tambusai, ujung Pekanbaru, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar kegiatan Expert Lecturer yang dirangkaikan dengan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriyah bersama Prof Dr Abdi Omar Shuriye, Rector Hormoud University Somalia. Kegiatan bertema “The Threat of World War III: The Role and Strategies of Muslims in Responding to It”, Rabu 11 Februari 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Umri Dr Saidul Amin MA, jajaran Wakil Rektor Umri, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Umri, Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Riau, Direktur, Dekan, Kepala Biro, Pimpinan Lembaga, UPT, dan Kantor, dosen serta tenaga kependidikan di lingkungan Umri.

Dalam sambutannya, Rektor Umri Saidul Amin mengajak seluruh sivitas akademika menyambut bulan suci Ramadhan dengan semangat berbagi dan penguatan spiritualitas.

“Mari kita hidupkan Ramadhan tahun ini dengan gerakan nyata. Kita menargetkan 1.500 fakir miskin dapat merasakan manfaat dari wakaf, zakat, dan infak selama Ramadhan. Jika setiap elemen dilingkungan Umri memberikan kontribusi satu paket buka puasa, maka dari 417 orang saja kita sudah bisa memberi makan 417 orang yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia juga mendorong seluruh keluarga besar Umri untuk aktif memakmurkan masjid di lingkungan masing-masing selama Ramadhan. Menurutnya, Ramadhan harus menjadi momentum lahirnya semangat baru dan inovasi untuk mendorong kemajuan Umri ke depan.

Mewakili PW Muhammadiyah Riau, Prof Dr M Nazir MA menyampaikan harapannya agar seluruh usaha amal Muhammadiyah, termasuk Umri, menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Kami berharap semua anggota, termasuk usaha amal seperti Umri, menyambut Ramadhan dengan semangat dan kebahagiaan yang melimpah. Mari kita gunakan momen Ramadhan ini dengan melakukan amal yang diajarkan Rasulullah, baik yang wajib maupun sunnah. Semoga upaya kita di Umri terus maju sesuai dengan semangat Muhammadiyah yang progresif,” ujarnya.

Dalam kuliah pakar yang disampaikannya, Prof Dr Abdi Omar Shuriye menjelaskan bahwa potensi terjadinya Perang Dunia III berkaitan erat dengan persaingan antara negara-negara besar. Negara-negara seperti Rusia, Amerika Serikat, China, Prancis, dan Inggris memiliki ratusan hingga ribuan senjata nuklir yang dapat memicu ketegangan di seluruh dunia.

“Senjata nuklir bukan hanya tanda kekuatan, tetapi juga alat untuk mendominasi secara global. Saat ini, dunia lebih dikendalikan oleh keseimbangan kekuatan dibandingkan dengan prinsip keadilan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa negara-negara Muslim, termasuk Indonesia dan Somalia, tidak bisa hanya mengandalkan sistem internasional yang sering kali dipengaruhi oleh kepentingan politik negara-negara besar. Ia berpendapat bahwa umat Islam perlu membangun kekuatan di dalam negeri melalui pendidikan yang baik, kemandirian teknologi, serta penguatan ekonomi.

Selain itu, Prof Abdi juga menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi global, di mana kurang lebih 10 persen dari populasi dunia menguasai sekitar 85 persen dari kekayaan global. Meskipun dunia Islam memiliki banyak potensi dari segi sumber daya alam dan jumlah populasi, mereka masih belum memiliki kedaulatan dalam penguasaan teknologi dan sistem digital.

“Kita memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki kedaulatan dalam pengelolaannya. Solusinya bukan reaksi emosional, melainkan pembangunan jangka panjang melalui pendidikan dan pembenahan pola pikir,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya tafaqquh fid-din yang tidak berhenti pada hafalan, melainkan melahirkan pemahaman mendalam dan ketepatan dalam bertindak. Pembangunan karakter umat, lanjutnya, harus bertumpu pada tiga pilar utama: ihsan (melakukan yang terbaik), itqan (profesional dan tuntas), serta ikhlas (meluruskan niat karena Allah).

Menurutnya, pendidikan dasar menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban. Nilai disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran beragama harus ditanamkan sejak dini. Selain itu, umat Islam juga perlu memiliki wawasan global dengan terus belajar dari berbagai belahan dunia.

“Ramadhan tidak boleh hanya menjadi ritual tanpa kesadaran sosial. Ibadah harus melahirkan kekuatan moral, intelektual, dan sosial. Lima belas tahun ke depan harus menjadi masa persiapan peradaban. Realitas dunia memang keras, tetapi umat tidak boleh lemah. Kita harus membangun dan bertindak dengan ilmu, akhlak, dan kesungguhan,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Univeristas Muhammadiyah Riau dengan Hormoud University Somalia, sehingga kegiatan ini menjadi momentum refleksi menjelang Ramadhan sekaligus penguatan wawasan global bagi sivitas akademika Umri dan penguatan kerja sama dalam menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks.***