Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Hingga pertengahan tahun 2019, setidaknya sudah dua anak meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pekanbaru. Dimana April, seorang anak meninggal di Kecamatan Sukajadi. Selanjutnya pada tanggal 22 Juli kemarin, Balita usia 3 tahun meninggal di Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya.

Hal ini sesuai informasi yang diterima dari Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Maisel Fidayesi mengakui jika balita berusia 3 tahun 11 bulan yang bernama Klaryanda Gistian ini meninggal dunia, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad.

"Balita meninggal dunia ini berjenis kelamin laki-laki dan positif DBD. Sehari-hari korban tinggal di rumah kakeknya di daerah Panam, Kecamatan Tampan pada tanggal 15 Juli 2019. Kemudian tanggal 17 Juli mengalami demam dan dibawa ke klinik dekat rumah kakeknya. Setelah demam turun, tanggal 18 Juli korban dan keluarganya pulang ke rumahnya di Jalan Mangga Besar, malamnya korban demam lagi. Tanggal 19 Juli, korban dibawa ke klinik Salsa Harapan Raya dan demam tinggi pada malam hari," terangnya, Kamis 25 Juli 2019.

Akan tetapi, pada tanggal 20 Juli pagi korban kembali terlihat sehat, hingga dapat bermain seperti biasa. Lalu pada tanggal 21 Juli dini hari korban mengalami kejang-kejang dan pendarahan hingga dilarikan ke RSUD Arifin Ahmad.

"Sampai tanggal 22 Juli, sekitar jam 09.55 WIB korban meninggal dunia setelah sempat dirawat. Hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan oleh petugas kesling Puskesmas Tenayan Raya, terdapat jentik nyamuk di kaleng cat di rumah pasien," paparnya.

Maisel mengimbau kepada seluruh masyarakat agar selalu waspada terhadap virus DBD ini. Jika demam tinggi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

"Apabila demam tinggi, segera bawa ke dokter atau rumah sakit agar bisa diperiksa darahnya," ungkapnya.

Maisel juga mengingatkan agar orang tua harus tanggap apabila anak mengalami demam tinggi. Jangan mengira badan panas hanya demam biasa.

"Perlu diwaspadai, DBD panas tinggi yang naik turun. Selain itu, masyarakat harus menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Segera menangani dan memeriksakan ke RS jika panas tinggi yang naik turun terjadi," jelasnya

Lebih jauh dikatakan Maisel, pihaknya sudah melakukan fogging di rumah dan lingkungan penderita DBD. Hal tersebut bertujua untuk memutuskan mata rantai penularan DBD dengan membunuh nyamuk dewasa.

"Tanggal 23 Juli 2019 kemarin. Fogging dilakukan hingga radius 200 meter dari rumah korban," tutupnya.

Untuk diketahui, hingga minggu ke-29 tahun 2019, sudah terjadi 284 kasus DBD. Kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Payung Sekaki dengan 55 kasus. Selanjutnya Kecamatan Sukajadi 36 kasus, Kecamatan Senapelan 15 kasus, Pekanbaru Kota 5 kasus, Kecamatan Rumbai Pesisir 12 kasus, Kecamatan Rumbai 13 kasus, Kecamatan Limapuluh 10 kasus, Kecamatan Sail 11 kasus. Kecamatan Bukit Raya 22 kasus, Kecamatan Marpoyan Damai 31 kasus, Kecamatan Tenayan Raya 25 kasus, Kecamatan Tampan 49 kasus, Kecamatan Payung Sekaki 55 kasus.**(saf)