PEKANBARU -- Gaungriau.com -- Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Riau (Unri) Prof Dr Ir Thamrin MSc, menyebut, kemampuan Mahasiswa dalam menyelesiakan perkuliahan dengan nilai baik adalah bagian dari keberhasilan Perguruan Tinggi dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Salah satu nya adalah bagaimana Perguruan Tinggi mampu membuat dan melaksanakan kurikulum dari masing-masing Program studi.
Hal itu disampaikan Thamrin saat membuka acara Workshop Penguatan dan Penataan Ulang Kurikulum di Lingkungan Universitas Riau, Rabu 23 Mei 2018 di Aula Serbaguna Gedung Rektorat Unri.
"Dengan Workshop ini, diharapkan dapat memberikan motivasi bagi kita untuk mengoptimalkan kerangka pengembangan dan peningkatan mutu kurikulum untuk peningkatan mutu pembelajaran mahasiswa dan mutu lulusan pendidikan tinggi,” kata Thamrin.
Sejalan dengan yang disampaikan Thamri, Kepala Biro Akademik Unri, Azhar Kasymi, SH, juga menyebut kalau kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk memberikan pemantapan wawasan bagi Unri dalam menyusun kurikulum yang sejalan dengan Peraturan yang berlaku.
Kegiatan penguatan kurikulum ini diikuti oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Jurusan, Koordinator Program Studi, dan Operator Transkip Nilai pada masing-masing fakultas yang ada di lingkungan Unri. Pada Workshop ini, Unri menghadirkan Narasumber dari Direktorat Jenderal Pembelajaran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ditjen Belmawa), Uwes Anis Chaeruman.
Sementara, dalam pemaparannya Uwes Anis Chaeruman menjelaskan menjelaskan Kemenristekdikti selalu mendorong perguruan tinggi untuk senantiasa memperbaharui kurikulumnya, yang tentunya tetap mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan Tinggi sesuai Permenristekdikti Nomor 44 tahun 2015.
“Kurikulum Pendidikan Tinggi ini dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi, namun harus mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk setiap Program Studi yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan. Kurikulum pendidikan tinggi ini, harus dikembangkan secara terus menerus karena kurikulum itu bersifat dinamis. Artinya, kurikulum harus mampu menjawab tantangan, senantiasa adaptif dan kontekstual sesuai dengan perkembangan yang ada,” kata Uwes.
“Sejalan dengan revolusi industri 4.0 sebagaimana yang sering disampaikan oleh Menristekdikti dalam berbagai kesempatan, pembelajaran di perguruan tinggi seharusnya sudah mulai mengembangkan sistem perkuliahan berkonsep e-learning atau berbasis teknologi informasi. Hal ini penting, agar sejalan dengan laju perkembangan teknologi saat ini,”tambahnya.**(rls)























