TALUK KUANTAN -- sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru melakukan praktikum budaya melayu di Kecamatan Kuamtan Hilir Seberang Kabupaten Kuantan Singging (Kuansing), 20-23 April 2017.
Praktikum ini dibuka oleh bupati kuansing yang diwakili oleh asisten II sekdakab kuansing Indra Suwandi dikuti olah sekitar 137 orang mahasiswa semester IV, dan 9 dosen jurusan sastra daerah FIB Unilak pekanbaru.
Diawali dengan Tari cerano dari siswa SMA N.1 Kecamatan Keuangan Hilir seberang.
Hadir dalam acara pembukaan, asisten II bidang ekonomi pembangunan Sekdakab kuansing, camat kuantan hilir seberang, dekan I Fakultas Ilmu budaya, Hermansyah SS,Shum.
Ketua pelaksana praktikum budaya melayu, Juswandi, menyebutkan selama kegiatan mahasiswa, adalah untuk meneliti tradisi dan.budaya di koto rajo, seperti somba nasi, baubek godang, rarak calempong gondang, dan randai, kemudian seminar bahasa, penyuluhan sastra daerah dan sastra inggris, Kemudian berbagai perlombaan budaya, dan lain sebagainya.
Pada kegiatan praktikum tersebut juga dilaksanakan penanaman pohon di kantor camat dan penyerahan bantuan bibit durian untuk masyarakat serta pembacaan syair oleh sugesti Sustiani, mahasiswa FIB unilak.
Dekan I FIB Unilak Hermansyah mengatakan, maksud dan tujuan kami ke sini adalah menggali seni budaya yang ada di kuntan singingi ini, karena masih banyak yang belum tergali, hal ini di buktikan dengan setelah tampil di berbagai kegiatan budaya di berbagai daerah.
"Jadi kami disini tinggal bersama masyarakat, karena ingin mendekatkan diri dengan masyarakat dalam upaya menggali seni budaya di daerah ini," katanya,
Ahyan Anofis Camatan Kuantan Hilir Seberang mengatakan, Kecamatan ini adalah pemecahan dari Kecamatan Kuantan Hilir yang dilakukan beberapa waktu lalu, secara geografis tidak jauh jauh amat, bisa dilakukan jalan mobil, motor dan jalan kaki, karena belum diaspal atau semenisari, Kuansing merupakan daerah budaya melayu, tapi anehnya kalau melayu garis keturunan ayah, tapi sebagain ada yang garis keturunan ibu,
"Benar di sini banyak.lagi seni budaya, yang hidup namun pencipta seni sudah banyak yang meninggal dan dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa membangkitkan batang tarondom," katanya.
Asisten II mengatakan, pemkab kuansing menyambut baik kegiatan ini dan berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat kuansing dan dapat mewujudkan Riau sebagai pusat budaya melayu asia tenggara.
"Sudah sewajarnya nilai nilai budaya yang kita miliki dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak tergerus oleh budaya asing, apalagi kuansing memiliki banyak.budaya yang memiliki nilai nilai dan filosofi yang baik untuk dikembangkan, yang saat sudah banyak.yang hilang," harapnya.**(aZ)
Praktikum ini dibuka oleh bupati kuansing yang diwakili oleh asisten II sekdakab kuansing Indra Suwandi dikuti olah sekitar 137 orang mahasiswa semester IV, dan 9 dosen jurusan sastra daerah FIB Unilak pekanbaru.
Diawali dengan Tari cerano dari siswa SMA N.1 Kecamatan Keuangan Hilir seberang.
Hadir dalam acara pembukaan, asisten II bidang ekonomi pembangunan Sekdakab kuansing, camat kuantan hilir seberang, dekan I Fakultas Ilmu budaya, Hermansyah SS,Shum.
Ketua pelaksana praktikum budaya melayu, Juswandi, menyebutkan selama kegiatan mahasiswa, adalah untuk meneliti tradisi dan.budaya di koto rajo, seperti somba nasi, baubek godang, rarak calempong gondang, dan randai, kemudian seminar bahasa, penyuluhan sastra daerah dan sastra inggris, Kemudian berbagai perlombaan budaya, dan lain sebagainya.
Pada kegiatan praktikum tersebut juga dilaksanakan penanaman pohon di kantor camat dan penyerahan bantuan bibit durian untuk masyarakat serta pembacaan syair oleh sugesti Sustiani, mahasiswa FIB unilak.
Dekan I FIB Unilak Hermansyah mengatakan, maksud dan tujuan kami ke sini adalah menggali seni budaya yang ada di kuntan singingi ini, karena masih banyak yang belum tergali, hal ini di buktikan dengan setelah tampil di berbagai kegiatan budaya di berbagai daerah.
"Jadi kami disini tinggal bersama masyarakat, karena ingin mendekatkan diri dengan masyarakat dalam upaya menggali seni budaya di daerah ini," katanya,
Ahyan Anofis Camatan Kuantan Hilir Seberang mengatakan, Kecamatan ini adalah pemecahan dari Kecamatan Kuantan Hilir yang dilakukan beberapa waktu lalu, secara geografis tidak jauh jauh amat, bisa dilakukan jalan mobil, motor dan jalan kaki, karena belum diaspal atau semenisari, Kuansing merupakan daerah budaya melayu, tapi anehnya kalau melayu garis keturunan ayah, tapi sebagain ada yang garis keturunan ibu,
"Benar di sini banyak.lagi seni budaya, yang hidup namun pencipta seni sudah banyak yang meninggal dan dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa membangkitkan batang tarondom," katanya.
Asisten II mengatakan, pemkab kuansing menyambut baik kegiatan ini dan berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat kuansing dan dapat mewujudkan Riau sebagai pusat budaya melayu asia tenggara.
"Sudah sewajarnya nilai nilai budaya yang kita miliki dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak tergerus oleh budaya asing, apalagi kuansing memiliki banyak.budaya yang memiliki nilai nilai dan filosofi yang baik untuk dikembangkan, yang saat sudah banyak.yang hilang," harapnya.**(aZ)



