Gaungriau.com (PEKANBARU) -- Merasa adanya kecurangan yang dilakukan pihak kampus saat menggelar pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau dilaksanakan pada tanggal 20-23 Maret 2019 kemarin.

Untuk itu, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Enam Fakultas mengancam akan menduduki gedung rektorat kampus, Senin 25 Maret 2019 usai sholat zuhur.

Ketua pemenangan paslon 01, Samian mengatakan bahwa, aksi menduduki rektorat ini merupakan bentuk kekecewaan para mahasiswa terhadap pihak rektorat yang secara sepihak sudah mendukungnya capres dan cawapres bonekanya.

"Untuk itu kita besok akan melakukan aksi penolakan hasil pemilihan presiden mahasiswa yang dilaksanakan mulai tanggal 20-23 Maret 2019. Dimanan dari sembilan Fakultas yang ada, Enam diantaranya tidak menerima hasil pemilihan tersebut," Samian yang turut didampingi pasangan Capresma nomor urut 01, Retno Febrian (Fakultas FKIP) dan Wapresma Sagala Bima Taryady (Fasilkom).

Samian menjelaskan, pada periode sekarang pemilihan dimenangkan oleh pasangan Capresma nomor urut 02, Amir Arifin Harahap (Fakultas Hukum) dan Cawapresma Cep Permana Galih (Fekon). Dimana, jumlah suara yang diperoleh oleh nomor urut 01 yaitu 2000 suara dan nomor 02 yakni 2454 suara.

"Namun dalam pelaksanaan pemilihan Presma Unilak banyak ketimpangan dan kecurangan. Selain itu, pada masa tenang sendiri Dosen juga ikut mengkampanyekan Capresma 02 didalam kelas dan lain-lain. Pelanggaran ini sudah disampaikan kepada pihak rektorat dan Badan Pengawas Pemilihan, namun tidak ada respon. Atas ada dugaan pemilihan yang tidak jujur ini. Maka kami dari enam fakultas tetap akan mendukung Presma yang kami tunjuk. Yaitu Retno Febrian dan Wapresma Sagala Bima Taryady," tegasnya, saat melakukan konfrensi pers kepada media di Kampus FKIP Unilak, Ahad 24 Maret 2019.

Selain itu lanjutnya, pada malam akhir pemilihan juga terdapat beberapa personel polisi berpakai lengkap hadir di tempat pemungutan suara. Padahal secara undang-undang aparat dilarang ikut campur dalam kegiatan interen kampus, terlebih lagi saat itu para
mahasiswa sedang melakukan Pemilu.

"Kami juga tidak tahu, kenapa kegiatan mahasiswa dikawal oleh polisi. Kami sangat kecewa, karena proses pelaksanaan Pemilu Presma seakan sudah disetting oleh pihak pemenang dari sebelumnya," keluhnya.

Retno Febrian yang ditunjuk mahasiswa sebagai Presma mengatakan akan tetap menjalankan kepemerintahannya bersama enam Fakultas pendukung. Dia bahkan mengaku tidak akan bersentuhan dengan Presma yang menang dan atau dimenangkan pihak rektorat.

"Sampai sekarang kami masih minta keadilan kepada pihak rektorat. Untuk itu, Senin besok, kami akan melakukan demo di depan kantor Rektorat Unilak. Hal ini merupakan bentuk perjuangan kami untuk mendapatkan klarifikasi dari pihak rektorat," kata Retno, didampingi perwakilan organisasi Enam fakultas pendukung.**(saf)