PEKANBARU -- Provinsi Riau khususnya Kota Pekanbaru tengah bersiap untuk mewujudkan daerahnya menjadi sebuah Smart City. Berbagai inovasi teknologi modrn dikembangkan untuk mendukung kota pintar ini, antaralain melalui perencanaan Kota ramah lingkungan sehingga dapat meningkatkan keseimbangan secara berkelanjutan, serta membangun fasilitas prumahan dan bangunan lainnya yang memenuhi kriteria sebagai smart building/green building.
Untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dalam mendirikan bangunan maupun pengoperasiannya, dibeberapa kota dengan konsep smart city telah dilakukan perbaikan pada infrastruktur serta sertifikasi bangunan untuk mengurangi penggunaan energi listrik dan air.
Konsep green building juga terbukti akan memaksimalkan pembangunan energi secara efisien. Hal ini adalah salah saty cara penting untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan.
Marketing Director PT Saint-Gobain Contruction Product Indonesia Won Siew Yee menyebut, Saint-Gobain Construction Products Indonesia (SGCPI), sebagai produsen papan gypsum dengan merek Gyproc sangat mengapresiasi konsep ‘Smart City’ dengan ‘Green Building’ tersebut melalui berbagai inovasi produknya yang ramah lingkungan.
“Saint-Gobain sebagai induk perusahaan kami, sangat concern terhadap isu-isu lingkungan. Dan gypsum Gyproc dengan inovasi teknologi terbaru yaitu drywall system merupakan produk ramah lingkungan karena 100% dapat didaur ulang, tidak mengandung bahan beracun, serta tidak memerlukan banyak air sehingga dapat menghemat waktu konstruksi hingga 25-30%,” jelas Siew Yee dalam acara Diskusi Media Bersama Gyproc Indonesia, di Swiss-Belinn SKA, Pekanbaru, Senin 2 Oktober 2017.
Dengan demikian Gyproc telah mendukung terealisasinya sebuah ‘green building’ dan ‘green city’ untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi di Bumi.
Berkaca dari Eropa, Amerika, dan Negara tetangga yaitu Singapura, drywall telah banyak digunakan. “Pemerintah Singapura tengah mendorong penggunaan drywall untuk menggantikan dinding bata sebagai usaha perlindungan terhadap lingkungan. Bahkan keseriusan pemerintah Singapura tersebut telah diwujudkan dalam bentuk regulasi dan menargetkan 80 persen dari bangunan-bangunan yang ada di sana, sudah tersertifikasi ‘green mark’ pada tahun 2030 nanti,” jelas Dia.
Dijelaskan, Drywall system dari Gyproc atau dapat juga disebut dengan GypWall merupakan pilihan tepat untuk bangunan-bangunan di Indonesia karena begitu banyak kelebihan yang dimiliki produk ini. Salah satunya adalah lebih efisien dalam pengaplikasian.
Drywall secara harfiah diartikan sebagai ‘sistem dinding kering’ merupakan sebuah sistem partisi atau dinding dalam ruangan yang terdiri dari papan gypsum yang dipasang pada sebuah rangka dengan menggunakan bantuan skrup khusus.
Disebut drywall karena merupakan bentuk dari konstruksi kering yang tidak menggunakan batu bata dan semen basah sebelum proses pengecatan. Dengan sistem dinding kering ini, pengguna dapat mengurangi pemakaian air, mempercepat waktu konstruksi hingga 30% serta tidak menghasilkan banyak kotoran pada area kerja yang mampu mengurangi labor cost hingga 20-25%.
Managing Director PT Saint-Gobain Contruction Product Indonesia Hantarman Budiono menyebut di Indonesia, pada umumnya gypsum dipakai untuk plafon bagian atas bangunan. Walau ada pula yang sudah mulai memakainya untuk bagian dinding.
“Meskipun total konsumsi gypsum di Indonesia relatif rendah, namun Gyproc optimistis dengan potensi yang ada, pasar Indonesia dapat ditaklukkan. Karena selain kondisi kebutuhan perumahan kami juga melihat potensi market ‘renovasi’ yang masih terbuka lebar,“ kata Hantarman mengenai prospek market Gyproc di Indonesia.
Dia menambahkan, baru-baru ini Gyproc meluncurkan inovasi produk lainnya, yang tak kalah revolusioner yaitu Habito. Sebuah sistem dinding kering Gyproc yang menawarkan kenyamanan serta efisiensi proses pembangunan dengan beberapa kelebihan seperti lima kali lebih kuat daripada dinding gypsum standar.
Lebih tahan terhadap guncangan yang terus menerus, memiliki insulasi suara yang lebih baik, mudah dipasang, serta mampu menahan beban hingga 30 kg per titik pemasangan. Habito adalah salah satu produk yang dirancang khusus untuk memungkinkan pengguna mendesain ruang dengan cepat dan fungsional.
"Selain kenyamanan yang ditawarkan, Habito juga mempermudah proses desain ruangan karena tidak memerlukan lagi alat khusus untuk menggantung barang," jelasnya.
Sementara, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Riau, melalui Ketuanya yaitu Choirus Subechan, ST., M.Si, IAI, mengapresiasi keberadaan material baru yakni papan gypsum ini.
“Kami sangat mengapresiasi atas masuknya bahan material yang dianggap masih baru, yakni papan gypsum dengan teknologi drywall system dari PT SGCI. Sehingga visi Pekanbaru sebagai ‘Green City’ sangat selaras dengan pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan, minim konsumsi sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya terbarukan, serta 100% dapat didaur ulang,”ungkapnya.**(mad)

































